Posted by: Is Sikumbang | April 24, 2008

ARTI SEBUAH KEJUJURAN

Siang ini tadi yayangku tiba-tiba nelpon. “Makan siang yuk”, ajaknya.
“Oke”, jawabku. So she picked me up at the lobby of Jakarta Stock
Exchange Building. Selepas SCBD, kami masih belum ada ide mau
makan dimana. Ide ke soto Pak Sadi segera terpatahkan begitu melihat bahwa
yang parkir sudah penuh. Akhirnya kami memutuskan makan gado-gado di
Kertanegara. Bisa makan di mobil soalnya. Sampai di sana masih sepi, baru ada
beberapa mobil. Kami masih bisa milih parkir yang enak. Mungkin karena masih
pada jumatan. Begitu parkir, seperti biasa, joki gado-gado sudah menanyakan
mau makan apa, minum apa. Kami pesan dua porsi gado-gado + teh botol.
Sambil menunggu pesanan, kami pun ngobrol. So, ketika tiba2 ada
seorang pemuda lusuh nongol di jendela mobil kami, kami agak kaget. “Semir
om ?”, tanyanya. Aku lirik sepatuku. Ugh, kapan ya terakhir aku nyemir sepatuku
sendiri ? Aku sendiri lupa. Saking lamanya. Maklum, aku kan karyawan sok
sibuk… Tanpa sadar tanganku membuka sepatu dan memberikannya pada dia.
Dia menerimanya lalu membawanya ke emperan sebuah rumah. Tempat yang
terlihat dari tempat kami parkir. Tempat yang cukup teduh. Mungkin supaya
nyemirnya nyaman. Pesanan kami pun datang. Kami makan sambil ngobrol.
Sambil memperhatikan pemuda tadi nyemir sepatuku. Pembicaraan pun
bergeser ke pemuda itu.
Perbincangan kami mulai ngelantur kemana-mana.Tentang kira2 umur dia
berapa, pagi tadi dia mandi apa enggak, kenapa dia jadi penyemir dll. Kami
masih makan saat dia selesai menyemir. Dia menyerahkan sepatunya padaku.
Belum lagi dia kubayar, dia bergerak menjauh, menuju mobil-mobil yang parkir
sesudah kami. Mata kami lekat padanya. Kami melihatnya mendekati sebuah
mobil. Menawarkan jasa. Ditolak. Nyengir. Kelihatannya dia memendam
kesedihan. Pergi ke mobil satunya. Ditolak lagi. Melangkah lagi dengan gontai ke
mobil lainnya. Menawarkan lagi. Ditolak lagi. Dan setiap kali dia ditolak,
sepertinya kami juga merasakan penolakan itu. Sepertinya sekarang kami jadi
ikut menyelami apa yang dia rasakan. Tiba-tiba kami tersadar. Konyol ah. Who
said life would be fair anyway. Kenapa jadi kita yang mengharapkan bahwa
semua orang harus menyemir ?
. Perbincangan pun bergeser ke topik lain. Di kejauhan aku masih bisa
melihat pemuda tadi, masih menenteng kotak semirnya di satu tangan,
mendapatkan penolakan dari satu mobil ke mobil lainnya. Bahkan, selain
penolakan, di beberapa mobil, dia juga mendapat pandangan curiga. Akhirnya
dia kembali ke bawah pohon. Duduk di atas kotak semirnya. Tertunduk lesu…
Kami pun selesai makan. Ah, iya. Penyemir tadi belum aku bayar.
Kulambai dia. Kutarik 2 buah lembaran ribuan dari kantong kemejaku. Uang sisa
parkir. Lalu kuberikan kepadanya. Soalnya setahuku jasa nyemir biasanya 2 ribu
rupiah. Dia berkata kalem “Kebanyakan om. Seribu aja”.
BOOM. Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatiku. It-just-does-notcompute-
with-my-logic ! Bayangkan, orang seperti dia masih berani menolak
uang yang bukan hak-nya. Aku masih terbengong-bengong waktu nerima uang
seribu rupiah yang dia kembalikan. SE-RI-BU RU-PI-AH. Bisa buat apa sih
sekarang ? But, dia merasa cukup dibayar segitu. Pikiranku tiba-tiba melayang.
Tiba-tiba aku merasa ngeri. Betapa aku masih sedemikian kerdil. Betapa aku
masih suka merasa kurang dengan gajiku. Padahal keadaanku sudah -jauhlebih
baik dari dia. Allah sudah sedemikian baik bagiku, tapi perilaku-ku belum
seberapa dibandingkan dengan pemuda itu,yang dalam kekurangannya, masih
mau memberi, ke aku, yang sudah berkelebihan. Siang ini aku merasa mendapat
pelajaran berharga. Siang ini aku seperti diingatkan. Bahwa kejujuran itu langka.
SUDAHKAH KITA BERANI JUJUR, KEPADA DIRI SENDIRI, KEPADA
ORANG LAIN, DAN KEPADA TUHAN ? “THE LORD BLESS YOU AND KEEP
YOU ; THE LORD MAKE HIS FACE SHINE UPON YOU AND BE GRACIOUS
TO YOU THE LORD TURN HIS FACE TOWARD YOU AND GIVE YOU
PEACE…………..”
Sumber : Unknown (tidak diketahui)


Leave a response

Your response:

Categories