Posted by: Is Sikumbang | April 28, 2008

APAKAH POTENSI KITA MASIH BERTUMBUH ?

Kematangan emosi dan kedewasaan seseorang bukan dilihat dari usia, tapi
dilihat dari bagaimana ia menghadapi masalah dengan cara yang bijaksana
dan mampu menyelesaikannya”
- Sonny Vinn -

Bagaimana cara anda menerima informasi hari ini ? Sebagian besar dari
anda akan mengatakan dari televisi, koran, surat kabar, dan mungkin juga dari
orang lain. Pertanyaan kedua adalah, berapa banyak dari informasi yang anda
terima tadi, yang bisa meningkatkan potensi anda untuk berkembang menjadi
lebih baik ? Tidak mudah menjawab pertanyaan kedua ini ; yang pertama
karena mungkin informasi yang kita terima sebagian besar adalah hal-hal yang
berkaitan dengan dunia luar, atau tentang life style, tentang hal-2 yang ada
hubungannya dengan pekerjaan kita, dan hanya sedikit yang berhubungan
dengan peningkatan potensi diri kita. Yang kedua, apakah kita masih perlu
mencari informasi-2 untuk peningkatan potensi diri, kan saya sudah dewasa,
sudah bekerja, dan bahkan sudah berkeluarga ? Karir saya sudah bagus,
keluarga saya hidup bahagia, masih perlukah informasi seperti itu ?
Secara fisiologis, tubuh kita bertumbuh paling pesat saat kita di usia 5
hingga 18 tahun, dan kemudian terus melambat, sampai akhirnya pertumbuhan
fisik kita terhenti rata-rata di usia 30 tahun. Sejalan dengan kondisi fisik tubuh,
emosi dan potensi kita pun juga terus tumbuh sejak kita lahir, dan mempunyai
potensi akan terus tumbuh sampai kita sendiri yang menghentikannya. Yang
sering terjadi adalah, kita tidak menyadari bahwa tanpa sengaja kita
‘menghentikan’ pertumbuhan potensi kita
Lalu, kapan tepatnya kita tanpa sadar ‘menghentikan’ proses
pertumbuhan potensi kita ? Proses pertumbuhan itu terhenti pada saat kita
memutuskan untuk berhenti belajar. Bagi kita yang pernah menginjakkan kaki
di bangku kuliah, biasanya kita akan berhenti belajar begitu lulus. Semua buku-
2 kuliah kita bundel, dan masuklah kita di dunia kerja dengan bekal yang kita
rasa sudah cukup untuk memulai karir. Jika anda bertanya, “Lho, bukankah kita
berhenti belajar karena bekalnya sudah cukup ?”, saya katakan YA, secara
akademisi sudah cukup bekal ilmu anda untuk masuk dunia kerja. Tapi yang
tidak banyak disadari adalah, pada saat kita berhenti belajar secara akademis,
otak bawah sadar kita juga terpengaruh dengan kata “BERHENTI” tersebut,
sehingga akan menolak informasi-2 lain yang masuk ke diri kita. Anda tidak
percaya ? Nah, saya akan tunjukkan satu contoh kecil. Coba lihat ke selera
musik anda. Siapakah penyanyi idola anda ? Apabila anda lulus dari bangku
kuliah tahun 60 atau 70-an misalnya, kecil kemungkinan anda mengidolakan
Michael Jackson, Britney Spears, dan penyanyi-2 era tahun 2000-an. Saya
yakin, sebagian besar dari anda yang lulus kuliah tahun 60-70-an pasti idola
anda adalah Elvis Presley. Kecuali anda pecinta musik sejati yang selalu
mengikuti perkembangan dunia musik dari jaman ke jaman, sangat jarang
diantara angkatan anda yang mengidolakan penyanyi-2 tahun 2000-an. Lalu,
apa artinya ? Begini. Pada saat otak anda masih terbuka untuk belajar, maka
otak anda juga terbuka untuk informasi yang lain, musik misalnya. Lalu karena
memang rekan-2 seangkatan anda waktu itu juga mengidolakan penyanyi yang
sama, maka normal-2 saja jika anda juga mengikuti trend tersebut. Saat anda
‘berhenti belajar’ pada waktu lulus kuliah, maka biasanya anda juga tidak
begitu antusias lagi mengikuti perkembangan musik, apalagi anda juga
disibukkan oleh pekerjaan. Waktu terus berjalan, setahun, dua tahun, lima
tahun, sepuluh tahun, dan selera musik anda akan tetap berada pada saat di
bangku kuliah tersebut.
Nah, itu tadi baru dari contoh yang kecil, tentang selera musik.
Bagaimana dengan hal-2 yang lain, misalnya emosi, potensi, dan kedewasaan
misalnya ? Coba tanyakan dan lihat sendiri ke diri anda hari ini ; adakah cara
anda menangani suatu masalah kurang lebih sama dengan beberapa tahun
yang lalu saat anda masih kuliah ? Bila kita termasuk orang yang tanpa sadar
‘berhenti belajar’, walau masalah yang dihadapi berbeda, tapi biasanya
caranya menghadapi masalah kurang lebih sama. Tidak ada yang salah
dengan hal ini, apalagi jika masalahnya bisa diselesaikan. Hanya saja, sayang
sekali jika potensi kita untuk tumbuh dihentikan begitu saja karena kita merasa
sudah cukup ; Yang mana sebenarnya kita punya potensi untuk hidup lebih
baik dari hari ini. So, agar otak bawah sadar kita bisa terbuka lagi terhadap
informasi yang bisa meningkatkan potensi kita, ada beberapa tips yang perlu
kita lakukan, yaitu :
1. MENGIKUTI PERKEMBANGAN JAMAN
Perubahan yang terjadi di sekitar kita begitu cepat, baik dari sisi sosial,
teknologi maupun ekonomi. Kita tidak perlu tahu semuanya, tapi
setidaknya kita bisa mengikuti kearah mana perkembangan berjalan ;
bahasa kerennya : Jangan kuper deh _
2. MELIHAT & MENYELESAIKAN MASALAH DARI SISI YANG
BERBEDA
Anda yang hari ini seorang ibu rumah tangga, bagaimana cara anda
apabila balita anda tidak mau makan misalnya ? Bila selama ini anda
sudah terbiasa dengan marah atau memaksa si anak bila mereka
mogok makan, mengapa tidak mencoba melihat masalahnya dari sisi si
anak ? Bisa jadi selera si anak tidak ada karena makanan yang tidak
mereka sukai, atau hal-hal lain yang tidak pernah terpikirkan. Untuk
masalah-2 yang lain juga, apabila anda berinisiatif melihat suatu
masalah dari sisi yang berbeda, bisa jadi anda akan menemukan solusi
lain yang lebih jitu.
3. JADILAH SEORANG EXPERT DI BIDANG ANDA
Anda suka memasak misalnya ? Jadilah seorang yang expert (ahli)
dalam memasak, minimal di rumah anda sendiri. Daripada hanya
memasak yang itu-itu saja, cobalah menu-menu baru yang belum
pernah anda coba sebelumnya ; ini akan memaksa anda keluar dari
comfort zone, membuat potensi memasak kita terus bertumbuh.
Sukses untuk anda !
_________
Moderator milis The Acesia (www.the-acesia.tk ), Motivational Speaker
Pengarang buku motivasi best seller “SLAM DUNK For SUCCESS”


Leave a response

Your response:

Categories