Oleh : S. Brotosumarto
Diposting di : Mailing List UGM
diarsip : www.cimbuak.netSaya, S. Brotosumarto lulusan Teknik Mesin UGM angkatan 72, MM-UI 90, dan Psiko-UI 99 urung maju
Referensi
Terdiri dari tiga bagian.
a. Text-book akademis ilmu-ilmu manajemen dan psikologi
b. Buku-buku populer sebangsa self help, kisah-kisah nyata, kata-kata mutiara, dan sejenis ini
c. Observasi lapangan, wawancara-wawancara informal, dan pengalaman langsung.
Ini adalah bahan thesis tentang Managerialship yang tidak selesai karena orientasi saya yang praktis & terapan tidak cocok sebagai karya ngilmiah. Saya malas mencancumkan bacaan saya tetapi saya rajin membaca buku-buku yang seperti itu. Sedari dulu.
Track Record
a. Mengawali posisi sebagai Profesional di perusahaan Internasional berbintang-5 : Instrument Engineer, Piping, Planning & Scheduling, Offshore hook-up, dll.
b. Menjalani posisi sebagai Manajer Fungsional di perusahaan Internasional berbintang-3 : Project Manager, Marketing Manager sampai menjadi Managing Director dengan daerah jelajah Asteng selatan sampai ke Timur Tengah.
c. Prestasi-prestasi sebagai Corporate Excecutive
- Berhasil menyelamatkan perusahaan bangkrut menjadi market leader.
- Stabil sebagai market leader dalam jangka waktu panjang
- Satu-satunya wajah asia diantara bule-bule. Sesudah saya lengser tak ada lagi wajah asia
- Termuda ke 2-3 diantara sejawat-sejawat Internasional selevel
- Mantan-mantan staff-staff saya dibajaki Perusahaan-perusahaan Internasional. Ada yang di Sin, Thai, Brunai, Malaysia, dll. Sebagian perusahaan-perusahaan bidang saya dimotori mantan-mantan staff-staff saya. Jadi persaingan sodara-sodara seperguruan. Gurune mbalah ndalang.
- Pakar Thermal Insulation Engineering (waktu itu) yang paling dalam pengetahuannya di RI.
d. Lintas profesi
- Sebagai Intrapreneur, kurang berhasil
- Sebagai Copreneur, on going. Masih berlangsung dan (sementara ini) berjalan bagus.
- Sebagai Investor, kurang intensive. Ada yang berhasil, ada yang ewes ewes. Nilainya kecil-kecil, masih ajaran.
- Sebagai dalang gadungan, sebagai pakar ejaan Jowo gadungan, penghibur gadungan, teolog gadungan, …… hehehehe
e. Prestasi finansial
- Mencapai kebebasan finansial pada usia 41. Artinya, bisa hidup layak tanpa kerja sampai usia 65.
- Penghasilan sekarang jauh lebih besar dari pengeluaran. Jauuuuh.
- Berhenti total dari bisnis & manajemen sebelum usia 50. Saya pensiunan muda mblegendu. Yang tidak tau kata mblegendu tanya bung Komo.
Bench Mark
Artikel Managerialship ini berbasis pada pengembangan teori Carl Gustav Jung bernama Myers Brigg Type Indicator atau MBTI. Jika ingin mengetahui lebih lanjut, cukup ketikkan mbti di gugel.
Ada satu penelitian yang diungkap Otto Kroeger & J. Thuesen, tentang berbagai type yang bekerja pada korporasi-korporasi. Pada entry level, semua type-psikologi terbagi merata. Semakin tinggi posisi, makin banyak yang berguguran, tinggal 4-type yang berkibar diatas. Artikel Managerialship adalah extraksi dari penelitian ini dalam bentuk kiat-kiat praktis. Diiluminasi dengan entrepreneurship & leadership untuk mempertegas sosok M.
Saya justru menghindari kesan ilmiah supaya tidak bikin mumet. Saya praktisi jalanan dan begitulah hasil tulisan saya. Praktisi jalanan
Merintis Karir 1
PRAKATA
Pertanyannya sederhana, apa saja yang bisa menunjang atau menghambat karir ? Jawabannya susah. Bukan karena jawabannya tidak ada, justru sebaliknya, jawabannya terlalu banyak. Kesulitan kedua, menyusun faktor2 yang berserak ini secara sistimatis. Mungkin lebih baik bila topik ini dibuat inetraktif. Kawan2 yang tahu menambahi, atau mengurangi apa2 yang ada di diskusi ini. Ngèyèlpun boleh. Malah wajib membantah. Artikel ini jauh dari ngilmiah tetapi saya punguti dari jalanan. Buku2 pop. Mengamati kisah2 nyata disekitar kita. Saya secara pribadi sekian tahun lamanya mengamati mengapa seseorang lebih sukses dari lainnya. Pengamatan atas kawan2 saya di SMU, Universitas, dll. Ini artikel ndeso. Banyak yang dulu disekolah sama sekali menonjol, eh … nyolong pethèk (tak terduga) …. sekarang berkibar.
Banyak artikel tentang orang2 besar, seperti Bill Gates atau Jack Welch. Atau Douglas McArthur, dll. Dalam skala nasional, ada Ir. Ciputra sang pelopor. Atau, Abeng yang manajer satu milyar yang jadi menteri mbèl gèdès. Atau Dr. Mochtar Riyadi – sang bankir bertangan dingin. Dll, dll ….
Tidak kawan, saya tidak mencontoh tokoh2 skala nasional atau megacorporation. Keduwuren ! Contoh2 yang saya amati adalah kawan2 kita. Tetangga2 kita, mantan staff2 saya dll. Tentang Hasan yang dulu bekerja sebagai mandor Perusahaan Jepang. Yang sekarang punya perusahaan sendiri. Tentang Siswanto yang dulu dipecat oleh atasannya. Sekarang malah menjadi mitra perusahan yang memecatnya. Tentang bu Eni, perempuan lulusan D3 yang bahasa Inggrisnya paténg plethot, yang mengawali karirnya sebagai sekretaris. Sekarang iapun bermitra dengan perusahan jerman beromzet 7 trilliun ! Tentang Musadi yang dulu jualan ikat pinggang, dompet, dan barang2 kecil dari kulit. Ia ngasong di Malioboro. Sekarang, pada usia 37 tahun ia jadi playboyo naik mersi.
Tentang kawan saya yang insinyir diperusahan minyak Total Indonesie, yang mencoba bisnis sendiri dan bangkrut. Ia insinyir yang mumpuni tetapi pebisnis yang payah. Sekarang ia kembali berkibar sebagai insinyir dhégdhoyo.
Mengapa mereka lebih berhasil dari yang lain ? Mereka tidak berpendidikan tinggi. Hasan & Siswanto malah cuma lulus SMU. Apa rahasianya ? Ini bukan artikel tentang leadership, enterpreneurship atawa managerialship. Tetapi tentang menjadi staff atau karyawan suatu perusahan. Tentang menjadi Corporate Warrior atau Ksatria Korporasi. Atau Corporate Gladiator.
Ini bukan untuk mereka yang cita-citanya sederhana. Urép prasojo lan sak madyo, sadermo nglakoni. (Hidup sederhana, seadanya sekadar menjalani hidup), Trimo ing pandhoom. Menerima pemberian. Saya tidak mengatakan ini falsafah yang buruk. Falsafah ini sama bagusnya dengan mereka yang berpembawan ambisius, makantar-kantar, ingin meraih bintang gemintang dilangit. Faktanya, banyak dari mereka yang tidak ngongso malah melejit ! Tidak banyak, memang. Jika berfalsafah urép sak madyo, artikel ini tak berguna. Silahkan ‘del’.
Sebelum kita mulai, ingat hukum karir I :
Gagasan (inspirasi) hanya menyumbang 1%; yang 99% adalah perspirasi atau kerja keras untuk mewujudkan (Thomas Alva Edison)
Artikel2 ini hanya memberikan gagasan2, ide2, inspirasi2, yang nilainya kurang dari 1%. Sisanya terpulang kepada anda sendiri.
Berikut sistimatikanya, masih under construction, yang masih bisa berkembang
Berikut overview-nya, masih under construction, yang masih bisa berkembang
A. Pendahuluan
B. Overview
C. Faktor2 Internal
•Ability – kemampuan
•Motivasi
•Sikap
•Pembawan
•Dll – under construction
D. Faktor Eksternal
•Ekonomi, politik, dll
•Lingkungan
•Mentor
•Atasan
•Rekan
•Dll – under construction
E. Faktor Lain
•Hold – under construction
F. Managerialship
•Hold – under construction
G. Opini Lain
•Menurut Andrew Mathew
•Menurut dll, dll,
Artikel ini akan tersendat me-loncat2, tidak bisa lumintu jadwalnya. PR inipun tidak mudah bagi saya. Mudah2an bisa selesai.
Merintis Karir 2
PENDAHULUAN
Sebelum memulai bagaimana sukses, tentunya kita harus mendefinisikan dulu sukses itu apa ? Yang bagaimana ? Sukses dalam hal kekayan ? Pangkat ? Derajat ? Semat ? Ibadah ? Berkeluarga ? Kegiatan sosial ? Dlsb, dlsb. Sukses sangat subjective dan masing2 orang punya definisi sendiri2. Sukses di karir hanya secuil dari sukses2 yang lain. Ada yang sukses di karir tetapi rumah tangganya ber-goyang2 terus. Ada yang sukses segi materi tetapi, misalnya ibadahnya tidak sukses. Dst. Dst. Kita membatasi diri pada diskusi sukses di karir.
Pertanyan berikut, apa kriteria sukses ? Ini pertanyan yang bisa sulit dijawab. Ada yang gampang, misalnya karir di militer. Jika si A sudah berbintang tiga sementara kawan2nya masih bintang satu maka orang bilang si A karirnya sukses. Sukses dalam materi juga gampang diukur. Jika kawan2 sebaya kekayannya 10 dan ia 15, maka ia bisa dibilang lebih sukses dari yang lain. Jika ia sales manager, prestasinya jual mobil misalnya 12, lainnya 8, bolehlah kita bilang ia relatip sukses. Juga dokter. Teman2 adik saya yang dokter suka bercanda satu sama lainnya. Mereka bertegur sapa dengan pertanyan : éntook bokong piro ? Maksudnya, pasiennya dapat berapa ? Ada yang menjawab : do re mi. Dokter2 (yang waktu itu masih muda) memakai nyuntik berapa bokong sebagai kriteria sukses.
Wiraswasta mudah diukur. Cukup dengan dua kata ; ” bathi piro ? ” (laba berapa ?). Juga Corporate Warrior yang jadi top eksekutif gampang dinilai. Misalnya pertumbuhan pangsa pasar berapa ? Manajemen menengah sulit diukur. Opo manèh yang masih dipapan bawah.
Tidak semuanya mudah diukur. Akirnya terpulang pada ybs untuk membuat self assesment (menilai diri sendiri). Membuat standar sendiri, mengukur sendiri, dan menilai sendiri. Walaupun mungkin tidak gampang, upayakan selalu evaluasi diri secara terukur. Paling gampang adalah membandingkan diri dengan prestasi rekan sebaya. Akan lebih bijak lagi, mengalahkan diri sendiri dimasa yll. Dulu cuma punya anak buah 2, sekarang 3. lumayan. Dulu rumah rss, sekarang rumahnya sak hoh hah. Dulu bininya atau suaminya satu, sekarang tiga. Ora, déng …… Begitu seterusnya. Metode terbaik adalah dengan mengalahkan kita dimasa lalu. Hari ini lebih baik dari kemarin dan esok lebih baik lagi.
Sukses ada skalanya. Berikut skala (menurut siapa saya lupa)
1. Staff gembus van der gombal
Sama sekali tidak berprestasi. Mung plonga plongo, mrongos thok, koplo, ngah ngoh, pah poh, memble, dst.
2. Mediocre – pas2an, standar, begitu2 saja, jalan ditempat, tidak ada kemajuan.
3. Incremental – sedikit diatas rata2 – lumayan
4. Substansial – melejit
5. Tersohor Nasional – jadi buah bibir seperti Arifin Panigoro, Gontha, dll.
6. Pesohor Global – Steve Jobs, dll
Silahkan tentukan sendiri yang mana. Sak karepmu. Minimal no. 3 dan jangan nomor satu.
Sesudah membicarakan ‘apa’ dan mau menyimak ‘bagaimana’ sukses, ada satu lagi pertanyan yang mengganjal – ‘mengapa’. Mengapa kita harus sukses ? Why should we ? Mengapa kita tidak menjalani saja kehidupan, seperti mengikuti kearah mana air akan mengalir ? Tidak usah neko2 (macem2). Pertanyan filosofis ini saya kembalikan kepada ybs. Itu pilihan kita. Saya hanya bisa memberi sebuah pertanyan balasan : why shouldn’t we ? Jika kita bisa meraih sukses, mengapa tidak ? Why not ? Lets do it.
Merintis Karir 3
Overview – SWOT
Hukum ke II sukses :
Success is a Journey, not a destination (lupa)
Sukses adalah sebuah pengembaran, bukan merupakan suatu akir. Sukses adalah untaian keberhasilan yang berkesinambungan. Jika anda ingin menjadi Managing Director, atau Presiden Direktur, Vice President, Chief Excecutive Officer, Chairman of the Board of Director, dst, dst, kita harus melalui suatu perjalanan. Kita bisa saja mulai sebagai kasir. Disusul dengan sukses2 yang terus menerus. Bahkan jikapun kita sudah pangsiun, kita masih berada pada pengulandaran (pengembaraan). Di palagan tak bertepi.
Kini kita sampai pada pertanyan2, berapa besar peluang kita untuk sukses ? Atau, kembali pada pertanyan awal, mengapa yang satu lebih sukses dari yang lain ? Karena keberuntungankah ? Karena pandaikah ? Karena ia dari suku tertentukah ?
Menjawab pertanyan ini sangat sulit. Pertama, sulit digeneralisir. Kiat2 sukses seseorang tidak selalu bisa diterapkan pada pribadi yang lain. Harus dilihat kasus demi kasus. Kedua, opini tentang bagaimana meraih sukses juga ber-macam2 dan begitu banyaknya sehingga kita seolah dibelantara, sulit memilih mana yang tepat guna. Ketiga, begitu banyaknya faktor2 yang menentukan keberhasilan seseorang. Mustahil merangkum semua itu. Kata Asmuni : hil yang mustahal.
Namun demikian, paling tidak kita bisa memindai unsur2 apa saja yang bisa mendukung kita supaya berhasil. Pada dasarnya, faktor2 itu bisa kita pecah menjadi tiga bagan utama
•Faktor Internal
•Faktor Eksternal
•Faktor X
Lho ? Kok, ada faktor-x segala ? Itulah, ini bukan sain. Ini adalah seni hidup. Seperti olah raga, selalu ada yang nyolong pethèk. Selalu ada underdog. Selalu ada yang sulit dijelaskan.
Kita akan mengawali dengan sikap introspektif, menggali diri kita sendiri. Apa saja kekuatan2 yang kita miliki. Apa saja kelemahan2 yang kita miliki. Kemudian, kita simak faktor2 luar. Seperti perusahan yang secara pereodik melakukan SWOT. Banyak yang sudah tahu SWOT itu apa – Strength Weakness Opportunity Threat atau kekuatan – kelemahan – peluang – sandungan. Kekuatan / kelemahan kita adalah faktor2 internal. Peluang / Sandungan adalah faktor2 Eksternal. Rahasia sukses sering terletak pada kesesuaian antara faktor2 internal dengan eksternal.
Ada seseorang yang memiliki kualitas baik tetapi ia dalam faktor eksternal (FE) yang kurang mendukung sehingga tidak berkembang. Ada pula seseorang yang faktor internalnya (FI) mampu mengalahkan faktor2 ekternal. Sebutir berlian, walaupun dikubangan lumpur, akan tetap bersinar. Ada pula kejadian seorang yang sebenarnya pas2an tetapi berada disektor eksternal yang sangat mendukung dan membuatnya bersinar. Alangkah baiknya jika kita bisa menyimak faktor2 tersebut dengan saksama.
Terlampir bagan Kwadran kombinasi2 FE & FI. Ada 4 kwadran
Kwadran I : FE & FI dua2nya bagus. Ini kondisi ideal, sukses bakal tergapai.
Kwadran II : FE buruk, FI bagus
Kwadran III : FE & FI dua2nya buruk. Ini adalah sebuah petaka.
Kwadran IV : FE bagus, tetapi FI buruk
Idealnya, kita mencari ‘habitat’ (faktor eksternal) yang sesuai dengan karakter, bakat dan minat (faktor internal) kita. Idealnya kita berada di kwadran-I. Yang sering terjadi sukses adalah being in the right time and right place – berada di waktu dan tempat yang tepat. Sialnya, mencari habitat yang sesuai tidak gampang. Ini yang akan kita diskusikan. Bagaimana jika kita kecemploong di kwadran yang tidak sesuai dengan harapan ?
Merintis Karir 4
KEMAMPUAN
Rumus ke III dari Begawan Socrates : ” Know Yourself “
Banyak yang tidak mengenali kekuatan2 / kelemahan2 sendiri. Sedikit dari kita menilai diri terlalu tinggi. Mbagusi, gembèlèngan, kemlinthi, jumowo, arogan, sombong, kumalungkoong, takabur, dll. Sedihnya, kebanyakan malah menilai diri terlalu rendah. Padahal mereka sangat sangat potensial. Mereka rendah diri, tidak pédé. Tidak memiliki keberanian untuk memunculkan ide2nya. Takut ditertawakan. Takut salah. Takut dipecat, takut gagal, kurang punya nyali, dll, dll, yang sifatnya negatip; yang menghambat potensinya.
Kita mulai dengan membicarakan ability. Kemampuan bukanlah kecerdasan akademis walaupun ada keterkaitannya. Banyak sekali pekerjaan2 tertentu yang memerlukan kecerdasan akademis. Kecerdasan akademis bukanlah jaminan. Bahkan ada anekdot di USA, bahwa yang kelewat cerdas malah disumbang oleh yang kooploo2 (bodoh2) Lulusan terbaik kebanyakan jadi dosen, peneliti, dll di Universitas tempat mereka belajar. Penyumbangnya siapa ? Yaitu, yang sekolahnya kooploo2 tadi. Mereka menjadi wiraswasta dan kaya raya, datang kekampus menyumbang kawan2nya yang dulu bak bintang kejora.
Yang benar, tidak ada orang sukses yang kooploo. Orang2 yang sukses selalu cerdas walau tidak selalu dalam konotasi cerdas akademis. Tetapi, ini tidak bisa dibalik. Yang cerdas disekolah tidak selalu sukses.
Yang dimaksud dengan ability disini adalah berbagai kecakapan. Kecakapan lain misalnya kecakapan berkomunikasi. Kecakapan konseptual. Kecakapan menjual. Kecakapan memimpin. Kecakapan berinteraksi. Kecakapan membuat keputusan, manajerial, negosiasi. dll. Termasuk tentunya kecakapan akademis. Sayangnya, kecakapan2 ini tidak diajarkan di kampus2. Ini harus dipelajari dikampus jalanan.
Seorang kawan saya dulu bintang kejora dikampus. Ia kemudian bekerja di Xxx Karya. Waktu kena krismon kena PHK dan sampai sekarang terpuruk dalam belitan ekonomi. Mengapa si cemerlang terpuruk ? Karena kecakapan yang dimiliki tidak sesuai dengan jabatannya. Atau, ia tidak memiliki kepandaian yang dibutuhkan dalam jabatannya. Ia bagaikan elang dalam sangkar.
Seorang bintang kejora lain bekerja di perusahan minyak. Pas ! Ia menjadi orang berpangkat disana, setara dengan Vice President Enginering. Ia insinyir par excellence menggunakan kecermelangannya dalam mengatasi masalah teknik yang rumit. Ia bisa dan ia melejit. Seperti bebek kecemploong kolam.
Sulit merumuskan dengan tepat apa kecakapan yang kita butuhkan karena terlalu beragamnya kebutuhan. Tiap situasi membutuhkan kecakapan tertentu. Amin mungkin manajer consumer good yang andal. Tetapi sebagai wiraswasta ia sama sekali tidak mumpuni. Apalagi jadi mentri, mbèl gèdès. Menjadi profesional, birokrat, corporate warrior, juragan, politisi, artis, masing2 membutuhkan kecakapan yang ber-beda2. Sekarang semua orang grudugan sekolah MM. Mereka tidak tahu bahwa tidak semua bisa menjadi manajer yang baik. Banyak yang memaksa diri menjadi wiraswasta dan berujung dengan kebangkrutan. Mereka kira, menjadi juragan adalah jalan pintas cepat kaya.
Jadi bagaimana ? Kembali lagi ke rumus diatas : Know thyself. Terkadang, bahkan ybs tidak tahu kemampuannya. Contoh, Mike Thyson. Cus d’Amato menemukan bakat pada pemuda berandalan ini. Yang kedua, mengembangkan kemampuan2 lain, terutama yang dibutuhkan dalam menunjang karir anda. Apa saja ?
Banyak, antara lain berbicara, berinteraksi, berkomunikasi, menyusun konsep, memimpin, menyelia, menjual, berunding, membuat kesepakatan (deal), menganalisis, membaca situasi, menyusun strategi, membuat jadwal, skema, skenario, membujuk, mempengaruhi, mengatasi konflik. Deret ini silahkan teruskan sendiri. Anda lebih tahu. Sampai kekemampuan yang bersifat ‘atos’ (keras). Mengintimidasi, berdebat, memaksakan kehendak, intrik, bersikukuh, luwes, kolusi, bersaing, berkelit, menggertak, dll.
Kemudian masih ada lagi penguasan pada bidang2 yang anda langsung geluti sampai hal2 yang terkait. Bahkan yang tidak terkait. Perpajakan, perbankan, hukum, aturan2, spesifikasi2 teknis, perkapalan, dst, dst. Dengan kecerdasan yang anda miliki, ini malahan relatip gampang. Yang susah yang disebut duluan diatas, tidak ada sekolahnya. Harus belajar dari kampus jalanan.
Apakah dengan kemampuan, semua beres ? Belon ! Seperti halnya ide yang bobotnya moong sak persen, kemampuan atau ability jebool nilainya juga tidak besar. Ada yang lebih besar atau lebih menentukan dari itu.
Merintis Karir 5
DEFINISI SIKAP
Simaklah Hukum ke IV Merintis Karir
“Ability is what you’re capable of doing. Motivation determines what you do. Attitude determines how well you do it.” Lou Holtz
“Success is 80% attitude and 20% aptitude.” Funmi Wale-Adegbite
“For success, attitude is equally as important as ability.” Harry F. Banks
” Attitude determines your Latitude ” Lupa
” Kemampuan adalah apa yang bisa anda lakukan, Motivasi menentukan apa yang anda kerjakan dan Sikap menentukan seberapa bagus anda melaksanakannya. “
” Sukses adalah 80% sikap dan 20% kecakapan “
” Untuk sukses, sikap adalah sepenting kemampuan “
” Sikap menentukan ketinggian posisi anda “
Inilah sebagian jawaban dari teka-teki kawan kita, yang menyatakan bahwa sesudah selesai kuliah di Fak Anu, ia kira itu sudah se-gala2nya. Mboten, masih banyak komponen2 lain yang menentukan sukses.
Sikap ternyata lebih penting dari kemampuan terutama untuk bidang2 kerja yang tidak terlalu rumit. Jika kita bekerja di-bidang2 dengan kandungan teknologi tinggi dan rumit, misalnya, maka paling tidak sikap setara pentingnya dengan kemampuan. Secara umum sikap lebih penting dari kemampuan. Ini menjelaskan mengapa mereka yang pendidikannya ambur adul, sekolahnya ugal2an, dll bisa melejit melampaui mereka yang diatasa kertas lebih unggul. Sikap lebih berguna jika kita kejeblos dikwadran yang berat.
Apa yang dimaksud dengan sikap ? Apa yang dimaksud dengan sikap positip, sikap proactive, dll ? Daripada mendefinisikan, mungkin lebih mudah kita menggunakan thesaurus. [ shift+F7+'attitude' ]
Approach : Sikap adalah bagaimana kita mendekati suatu masalah
Bearing : Sikap adalah bagaimana kita memikul suatu masalah
Feling : Sikap adalah bagaimana kita merasakan
Manner : Sikap adalah bagaimana kita berperilaku
Mind-set : Sikap adalah bagaimana pangkaltolak pikiran kita
Oppinion : Sikap adalah bagaimana kita berpendapat
Outlook : Sikap adalah bagaimana kita memandang keseluruhan
Point of view : Sikap adalah bagaimana sudut pandang kita
Pose : Sikap adalah bagaimana kita menempatkan diri
Position : Sikap adalah bagaimana posisi kita
Posture : Sikap adalah bagaimana sosok kita
Standpoint : Sikap adalah disisi mana kita berdiri
Thought : Sikap adalah bagaimana pikiran kita
View : Sikap adalah bagaimana kita menyimak
Way of behaving : Sikap adalah bagaimana kita berbuat
Way of thinking : Sikap adalah bagaimana cara kita berpikir
Way of believing : Sikap adalah bagaimana kita meyakini sesuatu
Jika dilakukan test kemampuan, barangkali 95% anggauta milis ini akan lolos. Jika menyangkut kemampuan yang harus dipelajari, seperti negosiasi, berunding, dll, saya masih yakin banyak yang bisa. Katakan hanya 5% gugur. Tetapi jika sikap mereka diuji satu persatu, separo dari warga ini akan berguguran. Semakin tinggi jenjang karir, makin banyak yang gugur. Mengapa ? Karena makin tinggi jenjang, kematangan dalam bersikap menjadi lebih penting. Sedihnya, sikap sulit sekali diubah ! Namun, masih ada harapan, kebanyakan warga milis ini masih belia2. Mudah2an masih bisa terkejar !
Sikap sering diartikan dengan mentalitas. Sering kita dengar bahwa seseorang mind-setnya batoor (jongos). Sikapnya seperti jongos. Sulit sekali baginya untuk meniti karir. Ada lagi yang sosoknya sebagai boss sudah kelihatan sejak muda. Seorang lagi punya way of thinking seorang juragan, jadilah ia tauke. Seorang lagi punya sikap sebagai generalissimo, jadilah ia jendral.
Ada yang punya sikap kooperatif. Ada yang bersikap konfrontatif. Ada yang punya sikap fatalistik. Ada yang pandai menempatkan diri dengan berbagai jenis orang. Dst, dst. Sikap seseorang dalam menghadapi kompetisi, konflik, tekanan kerja, tenggat waktu, dll. Ada yang sikapnya ulet, ada yang gampang menyerah. Ada yang bersikap tuntas dalam segala hal, ada yang setengah2. Dan masih banyak lagi.
Jadi, sikap yang mendukung / menghambat karir séng piyé ? Lagi2 ini harus anda lakukan sendiri. Saya tidak mampu memberikan resep seperti hukum Phytaghoras. Yang bisa saya lakukan adalah memberikan ilustrasi2 tentang bagaimana sikap mempengaruhi karir.
Lampiran
Berikut ini sebuah pemikiran dari seseorang entah siapa. Yang menyatakan bahwa negara kaya – miskin ditentukan oleh sumber daya manusianya. Dan manusia2 itu digambarkan memiliki attitude yang baik. Simaklah.
To reflect and… Act.
The difference between the poor countries and the rich ones is not the age of the country
This can be shown by countries like India & Egypt, that are more than 2000 years old and are poor.
On the other hand, Canada, Australia & New Zealand, that 150 years ago were inexpressive, today are developed countries and are rich.
The difference between poor & rich countries does not reside in the available natural resources. Japan has a limited territory, 80% mountainous, inadequate for agriculture & cattle raising but it is the second world economy.
The country is like an immense floating factory,importing raw material from the whole world and exporting manufactured products.
Another example is Switzerland,which does not plant cocoa but has the best chocolate of the world.In its little territory they raise animals,and plant the soil during 4 months per year.
Not enough, they produce dairy products of the best quality.
It is a small country that transmits an image of security, order & labor, which made it the world’s strong safe.
Executives from rich countries who communicate with their counterparts in poor countrie
show that there is no significant intellectual difference. Race or skin color are also not important immigrants labeled lazyin their countries of origin are the productive power in rich European countries.
What is the difference then?
The difference is the attitude of the people, framed along the years by the education & the culture.
On analyzing the behavior of the peoplein rich & developed countries,
we find that the great majority follow the following principles in their lives:
1. Ethics, as a basic principle.
2. Integrity.
3. Responsibility.
4. Respect to the laws & rules.
5. Respect to the rights of other citizens.
6. Work loving.
7. Strive for saving & investment.
8. Will of super action.
9. Punctuality
In poor countries, only a minority follow these basic principles in their daily life.
We are not poor because we lack natural resources or because nature was cruel to us.
Merintis Karir 6
SIKAP KERJA – 1
Sikap umum yang fatal : bekerja bagi pihak lain
Ini telah saya singgung. Banyak sekali karyawan2 yang punya sikap bahwa mereka bekerja demi perusahan atau pihak lain. Sikap ini membuatnya terkucilkan dan tidak bisa menyatu dengan apa yang dikerjakan. Buang jauh2 opini destruktif ini.
Gagasan ‘rumongso handarbèni’ (merasa memiliki) bukanlah demi kepentingan sang juragan atau PT tetapi untuk anda sendiri. Saya telah berikan contoh2 bagaimana beberapa orang semula adalah staff pt tersebut. Sekarang mereka tidak sekadar ‘rumongso’ memiliki tetapi benar2 memilik ! Awalilah dengan memiliki sikap Corps d’espirit. Camkan, anda bekerja bagi anda sendiri, bagi orang2 tersayang, bagi misi anda. Whatever. Bukan untuk orang lain.
Citra Diri
Sering kita dengar sikap yang (maksudnya) merendah : ah, saya kuli pt anu. Syukurlah jika itu sikap merendah. Cilakanya, terkadang itu adalah proyeksi kekerdilan jiwa. Jika anda sendiri tidak menghargai diri, bagaimana orang akan menghargai anda ? Bagaimana ia akan menghargai dengan mempromosikan anda ? Ucapan2 seperti saya pegawai rendahan, wong cilik, dll membelenggu anda sendiri menjadi seperti yang anda katakan. Sangat penting kita tidak bersikap seperti itu.
Mengherankan, orang2 yang gé-èr malah menjadi seperti yang di gé-èr-i ! Ia yang merasa seperti boss, bersikap atau berperilaku seperti boss, anehnya, malah menjadi boss ! Lah, kalau begini caranya mending gé-èr-an dari pada minderan. Intinya adalah, you are what you think you are. Kamu adalah seperti yang kau pikirkan tentang dirimu. Jika kita berpikir hanya kuli, ya begitulah kamu. Mengapa kita tidak ‘berlagak’ seperti orang2 yang kita anginkan ? Ini kelihatan ide konyol, tetapi saya cukup banyak membaca dan membenarkan bahwa kita mulai dengan ‘berlagak’. Gunakan imajinasi kita !
Mulai dengan Akir
Pernah saya bilang, begin with end. Jika ‘end’ yang anda harapkan dan tiup2kan pada diri adalah ‘end’ yang positip, banyak peluang anda menjadi seperti yang anda pikirkan. This is just beginning. Ini hanya sebuah permulaan. Lha, kalau begin-nya sudah salah, akirnya pasti tambah bubrah ! lebih celaka lagi, banyak yang tidak punya gambaran sama sekali ‘end’nya apa. Ya, tidak begin2. Muter2 saja. Semakin dini anda menentukan ‘end’, makin besar peluang untuk sukses. Semakin jelas dan rinci visualisasi ‘end’, makin bagus peluang untuk berhasil. Bagi mereka yang kesulitan menentukan ‘end’, jangan kuatir. Ini masalah yang gampang2 susah. Banyak yang dengan mantap dan spontan bisa menjawab ‘end’nya apa. Tetapi yang tidak bisa menjawab buanyak.
Menghormati diri
‘Ora kajèn’ (tidak dihargai) – kata2 ini sering terdengar terutama bagi mereka yang masih merayap diawal awal karir. Orang pertama yang tidak menghargai justru dia sendiri karena punya perasaan demikian. Ia merendahkan dirinya karena pangkatnya masih rendah. Atau pekerjaannya tidak sesuai dengan harapan. Ia malu jadi maklar, jadi dagang beras, dll. Ini juga sikap2 yang sangat merusak citra diri. If you can’t respect yourself, or whatever you do, don’t expect people to respect. Jika anda sendiri tidak mampu menghargai diri atau apapun yang anda sedang kerjakan, jangan berharap diajèni orang, dong. Kalau ia sendiri tidak menghargai apa yang dilakukan, bagaimana ia bisa berprestasi ? Mulailah dengan sikap ngajèni diri sendiri. Dengan menghargai apa yang dikerjakannya.
If you wish to achieve worthwhile things in your personal and career life, you must become a worthwhile person in your own self-development. Brian Tracy
Jika anda ingin mencapai sesuatu yang bernilai baik dalam kehidupan pribadi atau karir, anda harus terlebih dahulu menghargai diri sendiri dalam pengembangan diri.
Merintis Karir 7
SIKAP KERJA – 2
Menjiwai pekerjaan
Idealnya kita mencari pekerjaan yang kita sukai. Faktanya tidak selalu begitu. Kadang pekerjaan ditangan tidak sesuai dengan harapan. Celakanya, syarat awal untuk bisa bekerja dengan baik adalah mencintai pekerjaan anda. Jika anda sudah mencoba dan tetap tidak menyukai pekerjaan anda, tidak ada pilihan lain kecuali quit dan cari pekerjaan lain yang kita ingini.
Jika ini sulit dilakukan, anda hanya punya satu pilihan. Jiwailah pekerjaan anda. Apapun itu. Menjiwai berarti pekerjaan itu menjadi jiwa anda. Seperti jika kita naik motor, kita akan menyatu dengan motor itu seolah motor itu kepanjangan anggauta badan kita. Do what you love, love what you do, and deliver more than you promise. Harvey Mackay Kerjakan apa yang kau sukai, sukai apa yang kau kerjakan, dan laksanakan lebih dari yang diminta.
Sebisa mungkin kita menguasai pekerjaan kita. Mendalami sampai sak detil2nya. Jika kita menguasai, harga diri dan rasa percaya diri kita akan meningkat pesat. Dua hal itu nantinya akan menyalakan sumber energi kita untuk merangsek maju lebih jauh lagi.
Inisaiatif
Kita menyuruh seseorang mengantar surat dengan sepeda. Karena sepeda bocor, ia kembali kekita dan bilang bahwa sepeda nggembos sehingga surat tidak bisa diantar. Sikap ini adalah sikap yang paling menjengkelkan. Yang penting surat sampai. Naik ojek, kek. Jalan kaki, kek. Berinisiatiflah. Jangan sedikit2 kembali ke boss bilang ini sulit itu susah. Kecuali sudah benar2 mentok.
Tunggu perintah
Lebih jauh lagi, jangan menunggu perintah. Dahuluilah sebelum diminta. Ini akan membebaskan kita dari perasan diperintah atau di-suruh2. Buatlah atasan anda menjadi tidak pernah memerintahkan apa2 karena anda telah mengantisipasikannya terlebih dahulu. Staff yang menjengkelkan adalah mereka yang selalu diingatkan untuk mengerjakan ini dan itu. Itu menunjukkan kurangnya inisiatip atau kemalasan ybs.
Lancang
Berkebalikan dengan staff yang kurang inisiatip, lancang juga sama buruknya. Jangan mengerjakan sesuatu yang bukan wewenang kita. Pandai2lah membatasi diri untuk tidak melancangi kewenangan.
Berbuat lebih
Upayakan untuk senantiasa melebihi target. Jika kita diminta membuat sepuluh misalnya, usahakan membuat 11. Jika kita harus mengerjakan dalam 3 hari, pikirkan bagaimana caranya mengerjakannya dalam 2.5 hari. Sikap ini akan membentuk sikap kerja anda untuk mengerjakan bukan hanya se-baik2nya tetapi, kalau bisa, lebih baik.
Menolak tugas / tanggung jawab
Sering terdengar umpatan, this is not my fuckin job. Faktanya, kita sering harus mengerjakan pekerjaan2 yang bukan urusan kita atau tidak ada dalam job description kita. Dulu saya adalah tukang insinyur dan saya me-ngumpat2 prak prèk ketika harus ngurusi yang bukan urusan gue. Walau misooh2, saya kerjakan. Apa akibatnya ? Saya jadi tahu perpajakan, hukum perburuhan, perbankan, dll tetek bengek yang not my fuckin job. Itu hak anda untuk menolak tugas. Tetapi itu juga berupa kesempatan. Saran saya, biarpun sambil dooncak dancuk, do it ! Seseorang yang hanya mau mengerjakan sebesar ia digaji, sulit punya pendapatan lebih dari itu (Lupa)
Dalih
Banyak juga orang2 yang bersikap men-cari2 dalih atas kemalasannya, ketidak mampuannya, kesalahan sikapnya, dll.
•The best job goes to the person who can get it done without coming back with excuses. Napoleon Hill . Pekerjaan2 terbaik jatuh ketangan orang2 yang mengerjakannya tanpa dalih.
•Never complain, never explain. Resist the temptation to defend yourself or make excuses. Brian Tracy Jangan pernah berkeluh kesah, jangan banyak penjelasan. Tahan godaan bersikap defensif atau berdalih.
•Ninety-nine percent of all failures come from people who have the habit of making excuses. George Washington Carver . 99% kegagalan berasal dari orang2 yang punya kebiasaan berdalih ria.
Kambing hitam
Juga orang2 yang selalu men-cari2 kambing hitam. Entah ekonomi jeblok, entah ada teror, entah sedang ‘mendapat cobaan Tuhan’, dll. Kalau mau cari kambing hitam banyak. Silahkan, tinggal pilih. Monggo, mongo, monggo, …. .
Sikap Positip
Semua orang sudah mengerti istilah ini. Hanya masalah pelaksanaan.
Merintis Karir 8
MENYIKAPI SIKAP
Sebagaimana dalam kecakapan maupun kemampuan, sulit sekali untuk menginventarisasi sikap2 yang mendukung dan menghambat karir. Supaya tidak nggladrah (berkepanjangan). kita hentikan sampai disini saja. Sisanya, silahkan anda simak sendiri.
Jadi, bagaimana kita menyikapi attitude ? Ada nggak petunjuk2 praktis ? Ada ! Nyontek !
ATTITUDE IS CONTAGIOUS. (Lupa)
SIKAP ITU MENULAR.
Carilah kawan2 gaul pilihan. Mereka yang potensial atau sudah sukses. Simak dengan saksama bagaimana mereka bersikap. Bagaimana cara mereka berfikir. Bagaimana sikap kerja mereka. Dst, dst, nanti anda akan kesetrum. Kita akan bicarakan lagi modus operandi ini dalam diskusi tentang Faktor External.
Jauhi si pengeluh, si pendalih, si pencari kambing hitam, si pemalas, si pesimis, si penakut, yang berjiwa kerdil, si léda lédé, si tidak disiplin, si sembrono, yang bersikap negatip pada semua situasi, si pemurung. Dst, dst, … Sikap2 buruk mereka menulari kita. Jika anda banyak bergaul dengan kambing pecundang, kemungkinan besar anda ketularan menjadi wedoos, kalah melulu.
Carilah orang yang bersemangat, yang antusias, yang optimis, yang percaya diri, yang berambisi secara sehat, yang bersikap positip, yang tertip, yang berjiwa besar. Yang ber-cita2, si periang. Dst, dst, … Sikap2 baik mereka menulari kita. Jika anda banyak bergaul dengan Tyranosaurus-Rex, anda akan belajar menjadi mereka.
Sekarang terkuak sudah rahasia mengapa saudara2 kita suku Cina lebih ulet dari suku2 lain. Mengapa ? Yaitu tuh, mereka ketularan attitude dari mbah2nya yang ulet. Kini kita bisa mengerti mengapa anak2 juragan (kebanyakan) punya sikap seperti tauke. Kini kita mengerti mengapa Megawati lebih mudah beradaptasi jadi presiden dari pada Gus Dur.
Ketika anda sudah nglamar kesana kemari, tak kunjung jua mendapat pekerjaan. Ketika anda sudah kerja siang malam. Jungkir balik – sirah dhadhi sikél, sikél dhadhi sirah. Karir tetep jalan ditempat. Ketika dagangan anda tidak jua laku. Sudah waktunya anda introspeksi. Apa yang salah ? Ekonomikah ? Politikkah ? Koplokah kita ? Kambing hitamkah ? Jangan lupa memeriksa – sudah tepatkah sikap kita ?
Mantra ke VI :
” Human being can alter his life by altering his attitude.” – (William James)
” If you don’t like something, change it. If you can’t change it, change your attitude. don’t complain. (Maya Angelou )
” Umat Manusia bisa merubah hidupnya dengan merubah sikapnya. “
” Jika tidak menyukai sesuatu, rubahlah itu. Jika tidak bisa merubah, rubahlah sikapmu. Jangan hanya berkeluh kesah “
Beberapa sikap yang sifatnya universal dan penting, diantaranya : action, confidence, commitments, courage, determination, dream, enthusiasm, excellence, focus, goals, intregity, imagination, leadership, optimism, perseverance, persistence, preparation, responsibility, will, dll. Sikap2 tersebut diatas sangat penting. Terlalu penting untuk dilewatkan. Namun jika kita bahas satu persatu, artikel ini akan berkepanjangan. Lebih baik kita posting tersendiri. [Nèk kober.]
Sebagaimana kita bisa membuat matrix Faktor Internal dan Faktor external, kita bisa pula membuat empat kwadran kombinasi attitude dan ability sbb :
Kwadran I : Attitude & Ability dua2nya bagus – ini kondisi ideal.
Kwadran II : Attitude bagus tetapi Ability kurang
Kwadran III : Attitude & Ability dua2nya buruk. Ambyar !
Kwadran IV : Attutude buruk walau Ability bagus
Jika berada di kwadran I, maka ia adalah orang yang potensial untuk sukses. Kadang mampu mengatasi Faktor External yang buruk. Jika di Kwadran II, ia akan dihormati dan hidupnya bagus. Kwadran III, tidak usah dibicarakan. Kwadran IV sangat disayangkan.
Merintis Karir 9
MOTIVASI
Cukupkah kita memiliki Sikap dan kemampuan yang baik ? Belon ! Kita ulangi lagi Rumus2 :
Sukses = { FE + FI + Fx }
Dimana Faktor Internal adalah FI = { Ability + Attitude + Motivation }
Secara singkat kita sudah bicarakan dua komponen, Attitude & Ability. Kini kita bicarakan komponen ketiga : Motivasi. Motivasi adalah daya dorong, driving force. Motivasi adalah ibarat kendaraan. Ada yang berbahan bakar minyak cem-ceman, ada yang mengusung bahan bakar nuklir. Sudah barang tentu yang berbahan bakar nuklir akan punya peluang lebih baik dari pada yang minyak cem2an. Ada yang menunggang sepeda onthèl, ada yang naik bebek 50 cc made in China yang mogak mogok, ada pula yang mengendarai truck ribuan cc dan bannya likuran. Gunungpun disrudug.
Motivasi ber-macam2. Ada yang karena takut di PHK, ingin berjihad, harta, wanita, kuasa, kebebasan, berkreasi, amal, hedonsime, idealisme, dll. Motivasi sifatnya sangat pribadi dan tiap pribadi punya motivasi2 tersendiri. Ada Motivasi yang bersifat internal, berasal dari hati nurani. Ada pula motivasi yang bersifat external yaitu berupa rangsangan dari luar. Motivasi internal lebih langgeng dan kuat. Motivasi external bisa melemah jika insentif yang didapatnya tidak sesuai dengan harapan. Misalnya seseorang dimotivasi oleh komisi. Jika komisi yang diperolehnya ternyata tidak sesuai dengan harapan, ia bisa kehilangan motivasi. Motivation is the fuel in your success engine. Make sure that you oil it regularly. Gary Vurnum . Motivasi ibarat bahan bakar dalam tunggangan sukses anda. Jangan lupa merawat secara teratur.
Mbak Ani dulu motivasinya sangat kuat dan ia melejit pada awal2 karirnya. Kemudian ia bunting dan punya anak yang lucu2. Motivasinya menguap, ia tak lagi ingin meniti karir. Ia menolak belajar S2 karena tidak mau pisah dengan putranya. Sesudahnya karirnya biasa2 saja. Ketika anak2nya sudah ABG, motivasi yang hilang itu muncul lagi. Sekarang mbak Ani meniti karirnya lagi, pada saat usia sudah 44th. Karir tidak mengenal batasan usia. Ada lagi seseorang yang termotivasi oleh tantangan. Tetapi begitu ia mengatasi tantangan itu, motivasinya nggembos. Ia mencari tantangan lagi.
Banyak yang menyarankan bahwa kita harus menghargai keberhasilan kita untuk mempertahankan motivasi. Jika kita berhasil, tak ada salahnya memanjakan diri dengan memenuhi apa yang menjadi keinginan anda. Poya2 kek, hura2 kek, beli ini, beli itu, ke-tempat2 yang anda ingini, dll, dll. Mempertahankan motivasi penting bahkan sering lebih penting dari membangkitkan motivasi. Ada pula motivasi tersembunyi, yang sering tidak disadari ybs. Ada orang yang kelihatan tenang2, tidak ngoyo tetapi sebenarnya ia menyimpan motivasi. Ada bara didadanya.
Salah satu yang bisa memotivasi anda misalnya, adalah kenyataan, jika anda mendaki (karir) lebih tinggi maka pemandangan disana lebih indah. Dibanding dengan rekan2 yang datar2 saja. Anda akan bertemu dengan tempat2 yang menarik dan wajah2 yang menarik. Meet new faces and new places. Anda bisa menyaksikan gemerlap Las Vegas, gemuruh Niagara, julang Menara Eifel, atau museum Prado. Atau tari2an Moulin Rouge nan molek, Kabuki yang bedaknya meblok2, dll. Anda akan bertemu dengan orang berbagai bangsa, negara dan budaya. Anda akan bisa mewujudkan gagasan2 anda lebih mudah. Anda bisa ber-self actualisasi. Anda bisa mewujudkan sosok jati diri anda. Anda akan menerima penghormatan. Terpandang, berpengaruh. Kata2 anda didengar. Anda bisa memberi dan itu sangat membahagiakan.
Motivasilah yang membuat seseorang yang kurang abilitynya mau bersusah payah belajar sehingga kemampuannya meningkat. Motivasilah yang membuat seseorang yang kurang attitudenya mau bersusah payah memperbaiki sehingga sikapnya makin baik.
Merintis Karir 10
EVALUASI FAKTOR INTERNAL
Dulu kita pernah hitung bahwa hanya 5% yang gagal mengatasi masalah ability yang bersifat teknis. Yang 95% inipun gugur lagi, katakan 10% karena ia tidak memiliki kecakapan2 non teknis (berinteraksi, membuat kesepakatan, dll). Tinggal 85% dan gugur lagi karena tidak memiliki attitude yang tepat, misalnya tinggal 40%. Dari yang 40%, tinggal 20% bertahan untuk maju ke anak tangga lebih atas. Yang gugur kebanyakan karena motivasinya memble atau tidak stabil.
Jika kita memiliki ke-tiga2nya, ability-attitude-motivasi, maka sukses akan anda capai. Semua orang yang sukses diatas rata2 memiliki tiga2nya. Untuk andapun, minimal dua baru bisa ‘lumayan’. Jika cuma satu, maka kemungkinan karir akan memble.
Rumus diatas, yang sederhana terpaksa kita tulis ulang menjadi lebih rumit.
Sukses = { FE(n) + FI(n) + Fx(n) }
Dimana n jumlah dari faktor2 tersebut yang jumlahnya dari satu hingga tak berhingga. Ini baru FI, kita masih dihadang FE, Faktor External yang bisa menjadi ‘pembunuh’ karir. FE akan kita bicarakan pada episode yad.
Kesimpulan
1. Selain kemampuan akademis, profesional, dan teknis, anda harus mengembangkan ‘kecakapan2 jalanan’. Seperti kecakapan membuat kesepakatan (deal), tawar menawar, interaksi, salesmanship, komunikasi, membujuk, dll. Mungkin juga anda akan terpaksa mempelajari kecakapan2 untuk menghadapi sikap2 keras, bluffing (menggertak), boasting, intimidasi, hasutan, dll. Kecakapan2 ini tidak disadari para peniti karir. Suka tidak suka, mau tidak mau, anda akan berhadapan dengan itu.
2. Anda akan harus membiasakan diri bersikap positip. Attitude adalah batu sandungan yang banyak membuat peniti karir tersungkur.
3. Penting untuk memahami bahwa mempertahankan motivasi sering lebih penting dari pada membangkitkannya.
“Ability is what you’re capable of doing. Motivation determines what you do. Attitude determines how well you do it.” Lou Holtz
Dari ketiga faktor tersebut, menurut pandangan saya, Attitudelah adalah faktor yang paling banyak makan korban. Dan pada kesempatan yad, kita adakan pendalaman. Besok saya postingkan studi kasus tentang beberapa orang yang berangkat dari status jongos menjadi boss. Apa rahasia mereka ?
Merintis Karir 11
Studi Kasus : dari jongos menjadi boss
Basuki dulu adalah pelayan sebuah mess perusahaan USA yang besar. Pekerjaannya cuci piring dan ngepel lantai. Ia mengerjakannya dengan sepenuh hati. Karena prestasinya seorang yang dilayaninya tertarik dan ia dipindah ke bagian lain. Sempat menjadi staff saya jadi tukang material; ber-sama saya memikul pipa, elbow, flange, dll. Basuki memiliki sikap kerja yang patut diacungi jempol. Motivasinya tinggi. Sekarang ia sudah Manajer ! Jabatan yang tinggi bagi mantan tukang cuci WC. Dengan keterbatasan abilitynya, ia mampu membaca spesifikasi2 teknik yang harusnya bacaan tukang ingsinyir. Dengan susah payah ia membaca gambar2 teknik. Ia bisa ! Ia tahu spesifikasi American Petroleum Institutes. Ia paham ASTM. Ingat, 20-25 tahun yll, ia tukang cuci piring. Ini bukan kisah fiktif. Ini nyata, jika anda ingin ketemu orangnya ada.
Hadi dulu adalah pembokat atau abdi keluarga saya, ketika saya masih ABG. Tetapi Hadi tidak punya mental batoor. Jika tugas sudah selesai, ia belajar membatik. Jika ditugasi belanja bahan2 batik, ia sangat bersemangat. Ia menyimak ilmu perbatikan dengan gairah. Ibu saya sering menegur anak2nya karena kesantunan Jawa kami kalah dibandingkan dengan totokromo Hadi. Kata ibu saya, Hadi bukan batoor tetapi bendoro (ningrat) yang sedang ngèngèr jadi batoor. Ia menyimak sikap swargi ayah saya dan kawan2 ayah saya yang juragan2 batik. Ia menyontek. Sekarang ia bukan lagi batoor. Hadi telah menjadi juragan. Ia telah keliling Eropa dan USA untuk mendemonstrasikan keahliannya melukis batik. Ia punya show room, punya bengkel, karyawan, dan expor. Ia sekarang juragan. Ia punya keahlian melukis dengan batik, sikapnya bagus, dan motivasi untuk menjadi juragan.
Mas Noto adalah oom saya. Ia mengawali karirnya sebagai sopir pribadi direktur PT. Taru Martani, pabrik cerutu di Baciro. Ia tidak membatasi diri hanya sebagai sopir. Ia membantu bossnya yang orang Belanda mengumpulkan tembakau. Ia menyimak sikap bossnya. Ia ikut2an belajar ilmu permbakoan dan ia menguasai ilmu meramu Srutu. Ia tidak berhenti sampai disitu, ia belajar manajemen sedikit demi sedikit dan akirnya diangkat menjadi direksi Taru Martani. Diberi rumah dinas besarnya sak hoh hah di Baciro. Bandingkan dengan sopir saya, sudah 17 tahun ia ikut saya dan tetep saja ia jadi Sopir.
Contoh2 diatas adalah pribadi2 yang mengerjakan pekerjaan2 ora kajèn. Dari tukang cuci piring, batoor dan sopir. Mereka tidak pedulikan keadaan itu. Mereka mengerjakan tugas2nya lebih dari yang diminta. Walau mereka mengawali dari tingkat sangat yang sangat rendah, mereka tidak pernah merasa asor (rendah diri). Ke-tiga2nya waktu itu mungkin statusnya adalah setara dengan ‘batoor’ tetapi sikapnya bukan sikap jongos. Walau pekerjaannya asor mrk mengerjakannya dengan sepenuh jiwa.
Bahasa Inggris mereka mbur adul tetapi mereka bicara dengan mantap seolah TOEFLnya lebih dari 600. Walau mereka bukan dungu tetapi mereka tidak secerdas anda. Mereka mengembangkan kecakapan lain. Hadi pandai melukis batik. Mas Noto adalah pakar srutu atau permbakoan. Basuki mengembangkan photographic memory. Ia mampu menghafal detil2.
Tiga contoh diatas adalah kisah sukses. Bukan yang gemebyar seperti kisah Bill Gate atau anak desa Kemusu yang jadi Presiden. Tetapi dari tukang pel ke Superintenden perusahaan raksasa dari USA adalah kisah sukses. Dari batoor jadi juragan yang tiap bulan menggaji berapa puluh tukang. Dari mantan Sopir yang kini berunding dengan orang2 dari mancanegara yang mau mengipor mbako made in Baciro.
Mereka memiliki ketiga faktor internal, ability, attitude, dan motivasi. Kita harus punya ke-tiga2nya. Kita harus mengembangkan ability sendiri, di jalanan, bukan dikampus. Ability ini bisa menjadi zimat. Kita harus menyimak dengan saksama, bagaimana harus bersikap. Kita senantiasa mengggengam motivasi tinggi.
Dengan prestasi tinggi kita tidak hanya anti PHK tetapi dipuncak kita juga melihat pemandangan yang lebih indah
Merintis Karir 12
Studi Kasus : bintang2 yang pudar
Teman saya, sebut saja Jim, juara MM. Ia abilitynya bagus, sayangnya sebatas ability akademis; ia kurang mengindahkan ability-jalanan. Dipikirnya kecakapan akademis sudah cukup. Padahal dalam bekerja ilmu yang dipakai tak lebih dari 2%. Motivasinya bagus, sayangnya sikapnya kurang bagus. Suka menggampangkan. Bekerja tidak tuntas. Loncat sana loncat sini. Idenya muluk2 dan mbèl gèdès. Yang satu belum selesai sudah mengerjakan yang lain. Sekarang ia hanya dosen honorer. Ngajar kesana kemari.
Teman SMU saya Jack hebat. Saya menyelesaikan aljabar dalam 12 langkah, 0.5 jam. Ia cukup 10 langkah, 15-20 menit. Tetapi sikap kerjanya payah. Sikapnya masih seperti ketika ia masih SMU. Ia léda lédé, suka menggampangkan. Ia tidak serius dalam mengerjakan apapun. Motivasinya memble. Ia kena PHK dan coba2 wiraswasta tetapi dengan sikapnya yang léda lédé, …. bablas. Ia hutang saya sekian juta dan tak pernah muncul lagi.
Kawan saya, John, adalah bintang kelas. Orangnya lugu. Ia menjalani kehidupan dan tidak neko2. Motivasinya sangat lemah, ia suka nrimo ing pandoom. Sadermo Nglakoni – sekadar menjalani kehidupan. Ia praktis tidak mengembangkan ability yang lain karena ia tidak merasa perlu. Karirnya merangkak dan ia bisa menjadi kepala divisi Mechanical & Electrical. Tetapi ia berada diposisi yang salah. Ia harus berkompetisi, harus menjual, harus ikut tender, harus negosiasi dengan pelanggan dan pemasok. Dengan pembawaannya yang lugu, ia kesulitan mendapatkan proyek. Ia sama sekali tidak sombong, bahkan rendah hati. Tetapi ia berada di garda depan, sebuah posisi bagi orang2 yang seharusnya punya naluri ‘membunuh’. Ia terlalu lembut untuk itu. Ia tidak terbiasa ‘berlaga’. Ia tidak tahu bagaimana caranya menyuap & memelintir supplier. Ia tidak menyadari bahwa posisinya menuntut perubahan sikap. Lama kelamaan divisinya ditutup karena tidak menghasilkan apa2. Rugi. Sekarang, dalam usianya yang tidak muda lagi, ia merangkak dari bawah lagi.
Jim bermotivasi tinggi dan cerdas tetapi ia sama sekali mengabaikan sikap. Jack tidak berubah sikapnya, sama seperti ketika ia masih SMU dan motivasinya memble. John dengan motivasinya yang sangat lemah tidak memiliki bahan bakar yang cukup untuk merubah sikapnya. Ia nrimo. Ia di PHK nrimo. Sekarang dengan kantor lusuh tanpa AC ia nrimo. Padahal, ia mampu memecahkan soal2 yang bikin kita semapoot.
Kini kita pahami bahwa ketiga faktor itu tidak statis. Ability, idealnya berkembang dengan kenaikan usia. Ketiga contoh diatas kurang menyimak ability ‘jalanan’. Attitude harus berubah dengan perubahan posisi, situasi, dan kondisi. Kita tidak bisa bersikap sama bila memimpin 10 dengan 500 orang. Gus Dur adalah contoh nyata. Ia masih dengan gaya pesantren di lembaga kepresidenan. Koloran, nglencer kesana kemari tidak jelas juntrungnya. Sikap Gus Dur yang tidak berubah membuatnya tersungkur. Motivasipun juga tidak statis. Pada saat kita bayi, motivasi kita sebatas motivasi biologis yaitu butuh makan dan minum. Kemudian kita terdorong untuk dimotivasi akan kebutuhan akan rasa aman. Meningkat lagi menjadi kebutuhan akan cinta dan penghargaan. Jika motivasinya berkembang sehat, ia akan sampai pada tahap motivasi puncak – aktualisasi diri.
Jika begitu, rumus kita tidak lagi sahih karena FI tidak semata-mata fungsi n, tetapi juga fungsi ruang dan waktu. Jika begitu, rumusnya tambah komplex, menjadi rumus dinamis
Sukses = { FE(n) + FI(n,r,t) + Fx(n) } dimana r adalah ruang dan t adalah waktu.
Wah, kok tambah ruwet ? Begitulah kenyataannya. Menjadi sukses gampang diucapkan tetapi dibalik itu banyak sekali faktor2 yang menentukan. Walau demikian, ini tidak menghentikan langkah kita, bukan ? Paling tidak anda punya sedikit petunjuk dalam introspeksi faktor2 mana yang tidak berkembang sesuai dengan harapan. Abilitykah ? Attitudekah ? Motivasikah ? Paling tidak anda tidak lagi awur2an dalam introspeksi. Paling tidak anda tidak lagi men-cari2 kambing hitam.
Sehubungan dengan lebaran, posting kita hentikan dulu dan kita sambung lagi dengan membahas Faktor External. Naskah ini telah saya postingkan ke File Section. Silahkan down load.
Merintis Karir 13
Faktor External
Merintis Karir
Overview tahap II
Melanjutkan artikel2 yang diposting sebelum lebaran, kita memasuki tahap II. Berupa penjabaran rumus S = {FE+FI+Fx} menjadi S = {FE(FI)+FI+Fx(FI)}.
Dilanjutkan dengan introduksi Locus of Control untuk verifikasi atau penguatan rumus tersebut diatas. Seterusnya bagaimana kita menyikapi faktor2 (FI, FE, Fx) dalam menggapai keberhasilan dan ketika dirundung kegagalan. Bagaimana kita bersikap agar tahan mengalami kegagalan yang beruntun tanpa kehilangan nyali. Bagaimana supaya kita mudah bangkit kembali.
Rencana daftar isi
13. Faktor Eksternal
14. Man for all Season
15. Menyikapi Faktor Eksternal
16. Menyikapi Faktor-x
17. Kesimpulan Akir
18. Locus of Control LoC
19. Menyikapi Kegagalan
20. Mengukur LoC
21. Peringkat LoC
22. Simulasi Kasus
23. Evaluasi ELC
24. Simulasi
Business Corporate Excecutive dan Elite Militer di USA memiliki score LoC tertentu. Ini yang akan kita bahas. Supaya tidak berkepanjangan, terpaksa kita break ke tahap III.
Merintis Karir 13
Faktor External
Untuk mengukur betapa besarnya pengaruh lingkungan, simaklah Mike Thyson. Ia mempunyai naluri menyerang. Kalau perlu kupingpun digigit pula. Bayangkan, andaikata ia bekerja di kantor pos. Jadi apa dia ? Jika Diding Bagito bertahan sebagai pegawai negri Depkeu, jadi apa dia ? Itulah yang terjadi pada kawan2 kita. Banyak yang berada dilingkungan yang salah.
Idenya sih, gampang. Carilah kekuatanmu dan temukan lingkungan yang sesuai dengan kelebihanmu. Prakteknya susah bukan main. Pertama, kadang kita tidak tahu kelebihan kita. Sudah itu, mendapatkan lingkungan yang sesuai dengan kehendak kita juga cuma mudah diomongin. Ia mungkin memiliki salesmanship yang bagus tetapi pekerjaan yang diperoleh misalnya jadi pemadam kebakaran. Atau, seseorang yang tidak memiliki naluri bersaing, tiba2 ia harus berkompetisi dengan predator lain.
Faktor external tidak selalu ramah. Generasi saya diuntungkan oleh rezim Orde Baru. Dengan program2 pembangunannya menciptakan banyak sekali peluang2. Waktu itu perusahaan2 datang kekampus merekrut pegawai. Tidak perlu ke warnet cari lowongan. Cukup mejeng dikampus. Ketika terjadi krismon, banyak yang bernasib buruk. Yang terhantam pertama adalah mereka yang prestasinya kurang. Yang prestasinya bagus ada juga kena PHK. Tetapi, tidak lama kemudian mereka berhasil mendapatkan pekerjaan lagi. Pada akirnya faktor internal memegang peranan penting dalam menghadapi ketidak ramahan faktor external.
Faktor2 external begitu banyaknya. Ada faktor ekonomi, politik, sosial, dll. Lingkungan kerja, suasana dalam perusahaan, dll. Kadang kita terjebak dalam perusahaan yang ambur adul manajemennya. Bagaimana kita mau mengembangkan potensinya, jika keadaan begitu ? Atasan brengsek yang tidak bisa menghargai prestasi kita, adik kena narkoba, dll, dll, yang tak terhitung banyaknya. Mana ada teror, mana dollar njondil2 naik turun sak mauné déwé. Begitu banyaknya faktor2 yang bisa kita salahkan sebagai menghambat karir. Jadi bagaimana kalau sudah begini ? Lagi2, faktor Internal menjadi panglima. Jika dua orang, yang satu FI bagus, yang lain biasa2 saja, berhadapan dengan Faktor External yang tidak ramah, yang mana yang bakal survive ? Jika dua2nya menjumpai FE yang bagus, siapa yang bakal lebih sukses ?
Jika demikian, definisi sukses harus kita simak dengan lebih saksama. Sukses tidak selalu bermakna maju dan makin baik. Misalnya penghasilan dulu 100 sekarang 120, maka ia lumayan sukses. Tetapi jika ia penghasilan turun menjadi 70, apakah ia gagal ? Belum tentu. Jika yang lain anjlog menjadi tinggal 40-50, maka ia tergolong sukses. Jika ia di PHK kloter ke-3, ia lebih sukses dari yang di PHK kloter I. Jika ia mendapat pekerjaan lebih cepat dari rekan2 yang kena PHK, maka ia lebih sukses dari pada yang masih menganggur. Seseorang yang dengan cepat bangkit dari kegagalannya tentunya lebih baik dari kawannya yang me-rengek2 terpuruk dalam keputus asaan.
Apakah jika faktor external tidak ramah, lantas kita angkat bahu dan bilang – habis, bagaimana lagi ? Kita terlalu lemah untuk membuat ekonomi dunia bagus. Kita tidak bisa membuat dollar stabil. Kita tidak bisa mencegah USA serang Irak. Apalagi, politik, sosial, narkoba, terorisme, dll. Sepertinya, ujung2nya, kita tidak ada pilihan lain kecuali senantiasa mengembangkan faktor2 internal supaya menjadi ‘man for all season’, orang yang tahan segala cuaca. Bahasa populer, tahan banting. Dalam keadaan cuaca apapun kita akan membuat kemajuan. Artinya, keadaan faktor eksternal tidak selalu bisa kita jadikan dalih. Disatu sisi kita harus menjaga diri agar tidak terpeleset mudah me-nyalah2kan, mengkambing hitamkan faktor eksternal. Untuk kedok atau dalih menyembunykan kelemahan faktor internal kita. Untuk kamuflase keengganan kita menatap realita; bahwa kita sedang dilanda keputus asaan, kejenuhan, kebosanan, dll. Pengkambing hitaman faktor2 external justru merugikan karena itu memandulkan daya juang kita. Disisi lain, kita juga tidak bisa mempersetankan faktor2 eksternal begitu saja. Jadi bagaimana ?
Merintis Karir 14
Man for all Season
Fakta, bahwa Faktor Eksternal mempengaruhi sukses adalah pernyataan sahih yang tidak bisa dibantah. Namun prakteknya tidak selalu begitu. Pada akirnya Faktor Internallah yang lebih menentukan.
Ini bermakna bahwa anda harus matak aji mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan segala cuaca, situasi dan kondisi. Anda sudah niat éngsun menjadi dhégdhoyo, dimanapun dan kapanpun anda ditempatkan. Mo jadi tukang ingsinyir kek, tukang bakul kek, corporate gladiator kek, no prablim-lah. Mo mulai dari satpam kek, dari kasir kek, sendiko dawooh.
Jika sampai kawan2 berguguran, andapun mungkin terluka parah sampai mecèdèl, tetapi anda tetap bertahan survive. Jika anda teroris, maka anda teroris yang tertangkap paling akir. Dan – bisa melarikan diri ! Jika anda ditempatkan diperusahaan yang hidup segan matipun tak hendak, anda bisa menyelamatkan perusahaan ini menjadi menghasilkan laba. Apalagi, jika anda ditempatkan di blue chip – anda akan berkibar !
Agar kita menggembleng diri sendiri. To become a man of all season. Menjadi manusia tahan gebug. Jika digebugi saja kita tahan, apa lagi jika faktor eksternal mendukung. Wuahhhh ….
Kiat ini sebenarnya sudah kita bicarakan. Simaklah
Do what you love, love what you do, … dst …. Harvey Mackay
Do what you love = Pertama, cari kerjaan yang kau sukai.
Love what yo do = Kalau nggak dapat, sukai apa yang ditangan
Atau yang lain :
” If you don’t like something, change it. If you can’t change it, change your attitude. Don’t complain. (Maya Angelou )
Jika yang kau dapat (FE) tidak sesuai dengan harapan (FI), rubahlah (cari FE lain, misalnya). Jika sulit mendapatkan (FE yang sesuai), rubahlah sikapmu (FI). Jangan me-rengek2 !
Ada satu kata mutiara yang layak kita kaji, dari Henry Ford yang sangat tersohor, yang dinobatkan menjadi Word of Wisdom paling favorit.
Whether you think you can or whether you think you can’t, you’re right!
Apakah kau pikir bisa atau tidak bisa, kau benar ! Jika kau berpikir tidak bisa mengatasi masalah external, maka pendapatmu benar. Kau tidak bakalan bisa atasi masalah external. Jika pendapat anda bahwa anda bisa meniti karir dengan baik, maka pendapat anda benar adanya. Jika kau pikir kau tak bisa lebih dari kuli, maka pendapatmu benar. Kau tidak lebih dari kuli. Jika kau pikir kau tidak bisa kajèn, maka pendapatmu tidak salah. Orang tidak akan ngajènimu karena kau saja tidak menghargai dirimu. Jika kau pikir kau bisa jadi direktur, pendapatmu benar. Whatever ! Apapun yang kau yakini, begitulah jadinya. Jika yang kau pikir adalah hal2 yang positip2, maka hal2 positiplah yang kau dapat. Jika kau penuhi pikiranmu dengan uwooh, maka benar, kau tak lebih dari seonggok uwooh (sampah).
Ini adalah fenomena yang sangat mengherankan. Hanya dengan mengubah sikap berpikir, dunia menjadi lain. Dulu pernah saya mentertawakan seseorang yang diatas kertas tidak bakalan jadi direktur. Ah, orang gé-èr. Mbèl gombial gèdès ! Herannya, ia benar2 jadi direktur ! Faktanya, kata mutiara ini telah menjadi jawara, sebagai ungkapan yang paling favorit. Artinya, banyak orang yang membenarkan bahkan membuktikannya.
Di Malaysia ini bahkan menjadi slogan nasional. Jika anda sedang di Malaysia anda akan menemui banyak poster2 berbunyi : Malaysia Boleh. Boleh dalam bahasa Malaysia adalah bisa. Poster tersebut harus dibaca dalam bahasa kita : Malaysia Bisa. Bahkan sebuah negara menganggap kata2 itu, ‘saya bisa’, sebuah slogan nasional. Tentunya ini bukan ungkapan mbèl gèdès. Mulai sekarang kita biasakan dengan begin with ‘saya bisa’. Susah memang karena hati kecil kita sering menyabot. Ah, bisakah saya ? Katakan, saya bisa. Begin with end. Tiap kali memulai sesuatu (begin), katakan jompa jampi mondroguno (end) ini : saya bisa. Banyak yang beranjak dengan sikap salah, meragukan kebisaannya.
Merintis Karir 15
Menyikapi Faktor Eksternal
Apakah mencari lingkungan yang sesuai dengan harapan satu2nya pilihan ? Mboten, ada belasan pilihan tersedia bagi kita dalam menyikapi Faktor Eksternal.
1. Mencari
Idealnya, kita harus mencari kesesuaian antara bakat (FI) dengan lingkungan (FE). Nature (bakat) mencari Nurture (alam). Ini adalah solusi terbaik dan diprioritaskan. Prakteknya, tidak semudah mengatakan. Sudah kesulitan mencari bakat, lingkungan yang didapat tak sesuai dengan harapan. Horotoyoh.
2. Menyukai
Jika anda tidak menghargai atau menyukai yang anda kerjakan, anda harus ganti. Atau, dengan menyukai apa yang dikerjakan. Anda tidak bisa mendua. Jika anda tidak menyukai pekerjaan atau lingkungan anda dan tidak bisa mencari pekerjaan lain, anda akan berada dalam keadaan hidup segan matipun tak hendak. Alias koma. Minimal tidak berprestasi.
3. Menghadapi
Jika yang ada ditangan tidak sesuai dengan harapan, mau tidak mau, suka tidak suka kita harus menghadapi. Dengan senantiasa mengembangkan diri. Tanpa putus2nya. Sepanjang usia. Kita menempa diri menjadi man for all season. Apapun keadaannya, kita akan hadapi. Do what you can with what you have, right now, right here. (Theodore Roosevelt).
4. Berkolaborasi
Kita pertimbangkan saran Nicolo Maciavelli, filosof kontroversial, (yang tersohor karena ucapannya – lebih baik ditakuti dari pada dicintai) yang berkata bahwa jika kekuatan luar terlalu besar, dari pada memusuhi, mending bersikap kooperatif. Adik teman resah dengan pembawaan atasan yang nylekit dan suka me-maki2. Jika ia bisa, ia akan pecat atasan. Tetapi, mana ada anak buah memecat bapak buah ? Ia coba terapkan taktik Machiavelli, merubah sikapnya dan berkolaborasi dengan atasannya. Dengan merubah sikapnya FE yang semula tidak ramah menjadi lebih bersahabat.
5. Menyesuaikan diri
Ini sering tidak mudah. Ada yang resah karena ia berada dikalangan orang2 yang koruptif, yang tidak sesuai dengan hati nuraninya. Mau minggat salah karena ia mencintai jobnya. Cari pekerjaan juga sulit. Mau bertahan disitu, ia dimusuhi lingkungannya. Mau ikut2an korupsi tersiksa hati nuraninya. Ini memang dilematis dan fakta kehidupan. Namun, dalam banyak kasus, banyak yang berhasil beradaptasi.
6. Memanfaatkan
Contoh yang gampang adalah mak Giver (MacGiver). Ia memanfaatkan apa saja yang ada disekitarnya menjadi berguna. Kawat, obat nyamuk, kaleng, dll. Demikian pula dalam bekerja. Kita bisa memanfaatkan banyak hal. Ada mentor, atasan, supplier, rekan2, kolega. Ada komputer, perpustakaan, dll. Tak ada rotan, akarpun jadilah.
7. Memusuhi
Ia memusuhi FE. Ia memusuhi atasannya, kolega2nya, peraturan2 kantor, bahkan mbalelo terhadap aturan negara. Jika ia kuat ia bisa menjinakkan lingkungannya tetapi jika tidak ia akan terlibas, minimal di PHK.
8. Mengkambinghitamkan
Sampai derajat2 tertentu sikap ini bisa ditolelir. Masalah ini kan kita bicarakan lebih rinci di episode ke II : menyikapi kegagalan.
9. Menaklukkan
Aha, ini dia, orang yang istimewa. Faktor internalnya begitu kuatnya sehingga ia mampu ‘memaksakan kehendak’ agar faktor external tunduk pada titahnya. Contoh mak Eros yang mendapat hadiah Kalpataru karena menyudet gunung. Mak Eros yang ndeso bisa menaklukkan gunung !
10. Menciptakan
Ini juga istimewa. If you can’t find it, make it. (lupa) Contoh, ketika Ir. BH tidak sepakat dengan cara manajemen perusahaanya. Ia minggat dan bikin Pt sendiri. Karena miliknya sendiri, ia bisa semaunya mengatur. Dan ia sukses. Perusahaan yang dulu menggajinya malah sekarang bangkrut.
11. Mengembangkan
Mirip dengan no. 10. Bedanya, menciptakan mulai dari nol, mengembangkan adalah menggunakan apa yang ditangan.
12. Menyerah
Dibicarakan pada hari Qiamat.
13. Dll (lupa)
Silahkan kembangkan sendiri alternatip2 baru.
Setiap orang punya kecenderungan sendiri2. Ada yang menyukai sikap nomor sekian, sekian, dan sekian. Saya pribadi menyukai no. 3, 6, dan 11. Saya sudah mempraktekkan quite sucessfully. The choice is yours. Always.
Merintis Karir 16
Menyikapi Faktor-X
Apakah FE sedang menyeringai menunjukkan taringnya ataukah mengerlingkan senyum, semua terpulang pada kita untuk menyikapinya. Attitude is everything. Attitude is a little thing that make BIG difference. Kita bicara tentang FE tetapi ujung2nya FI yang menentukan. Jika demikian, dalam notasi matematis, FE adalah fungsi FI. Biasa kita tulis dengan FE(FI). Rumus berubah lagi :
S = {FE(FI)+FI+Fx} (notasi2 r,t, & n kita hapus supaya tidak ruwet).
Maka tak pelak lagi dominasi FI dalam menentukan sukses menjadi makin besar ! Keadaan FE bertambah baik / buruk tergantung sikap kita.
Diatas kertas Tim Azuri Italia akan menang melawan Tim Korea yang baru belajar. Kenyataannya, Italia dipecundangi oleh Tim anak bawang. Itulah seni hidup. Selalu ada Faktor-X. Itu fakta seni kehidupan. Ketika kita meniti susah payah sampai kedekat posisi yang kita inginkan, tiba2 jleg, tahu2 menantu juragan menempati posisi yang kita inginkan. Jadi, bagaimana kita harus menyikapi keberuntungan / petaka ?
Siapa yang menduga Gus Dur terpilih jadi presiden ? Ia bak mendapatkan durian runtuh Fx. Tetapi, mengapa ia tidak bisa mempertahankan peluang ? Mengapa ia begitu mudah jatuh. Lihat si anak desa dari Kemusu. Tiba2 G30S meleduk. Dengan cekatan ia bertindak. Huru hara ini menjadi peluang baginya. Tidak ada seorangpun yang menduga ia jadi presiden. Ada dosen yang karyanya bagus untuk dicetak. Ia memanggil kawannya si tukang bakul untuk melaksanakannya. Siapa yang meraup laba ? Si Tukang Bakul ! Mengapa ? Karena si dosen mind-setnya keilmuan, bukan cari laba. Ia tidak memposisikan diri meraup laba. Si Tukang bakul memang sudah jauh2 hari mempersiapkan diri golèk bathi. Mengapa Gus Dur jatuh ? Karena ia tidak mempersiapkan diri jadi presiden. Mengapa Pak Harto bisa ? Karena ia mempersiapkan diri cukup panjang. Sejak dari tentara ndeso, panglima mandala, dst, dst.
Sebelum pak Harto jatuh Sri Bintang Pamungkas termasuk salah satu pendobrak yang berani. Sesudah huru hara, Bintang pudar bintangnya. Bandingkan dengan Amin Rais yang sampai sekarang masih berkibar. Karena Amin sudah lama mejeng mempersiapkan diri. Sampai menjabat ketua Muhammadiyah bukanlah persiapan yang seadanya. Katakunci menghadapi Fx adalah memposisikan diri atau mempersiapkan (preparation).
Banyak yang mengeluh, mengapa peluang tak kunjung datang ? Yang terjadi adalah seperti si dosen. Mindsetnya tidak mempersiapkan diri untuk golèk bathi. Ia tidak berada dalam posisi meraup laba. Ia tidak mampu melihat peluang dipelupuk mata..
Luck is preparation meeting opportunity (lupa)
Tanpa persiapan kita akan kedodoran, seperti Gus Dur. Atau Bintang yang tak siap jadi bintang. Fx tidak selalu berupa keberuntungan tetapi bisa jadi kesialan. Jika kita sudah mempersiapkan diri (preparataion) kita bisa meredam petaka tersebut menjadi minimal. Si A sudah mengantisipasi (preparation) PHK (petaka). Ia punya tabungan sebagai ‘cadangan devisa’ 2-3 tahun. Preparation atau kesiapan menangkap peluang (opportunity) atau antisipasi petaka tak lain dan tak bukan adalah faktor internal FI. Jika begitu, Fx adalah fungsi FI lagi.
Rumus berubah lagi, menjadi
S = {FE(FI)+FI+Fx(FI)} … sukses makin tergantung FI
Sesudah kita bicara panjang lebar, njlimet, bolak balik, muter2, ternyata kesituuuuuuuuuu terus. Kita selalu kembali ke FI. Kita bicara tentang FE, ternyata FE dipengaruhi FI. Tergantung sikap kita dalam menghadapi FE. Demikian pula halnya Fx. Fx baru bermakna jika FI kita siap menerima Fx keberuntungan / petaka.
Merintis Karir 17
Kesimpulan Akir
Sebenarnya, uraian yang ber-lembar2 ini bisa kita persingkat.
Sukses sangat tergantung dari pengembangkan faktor2 internal.
Seorang pembaca artikel ini telah menyatakan skeptismenya. Tetapi beliau tahu bahwa bolak balik faktor yang sangat menentukan adalah Faktor Internal. Simaklah petikan kritiknya
” … alasan saya tanya adalah, gak akan banyak gunanya (saya aliran pesimis kalo udah gini..) .. karena, untuk mengubah orang dewasa itu sulit… bisa dihitung deh dengan jari… memang ada, contohnya kakak teman saya yang berubah 180 derajat setelah membaca buku poor dad rich dad… tapi kalo mo jujur, berapa sih yang berubah seperti itu? balik lagi ke faktor internal tadi … yaitu orang2 yang punya kualitas lebih… yang udah punya modal atau bakat lebih in their childhood.. “
Ia masih muda, tetapi secara naluriah ia mampu menyimpulkan bahwa rahasia sukses terletak pada Faktor Internal. Yang perlu dikoreksi adalah pernyataannya yang paling akir. … yang udah punya modal atau bakat lebih in their childhood.. Kata terakir kita koreksi menjadi … yang mampu mengembangkan faktor2 internalnya sampai maksimal. Tidak sebatas masa kecil (childhood). Ability dan Attitude bisa dipelajari kapan saja, pada usia berapapun. Bahkan sayapun masih belajar. Apalagi anda yang masih muda. Motivasi bisa dibangkitkan pada semua usia.
Banyak contoh2 orang2 yang menemukan kemampuan dan bakatnya sejak dini. Tetapi tidak sedikit yang menemukannya ketika ketika tidak muda lagi. Pernyataan bahwa modal dan bakat adalah anugerah ketika kita masih balita adalah sikap fatalistik. Seolah ia berkata, kita tidak dikaruniai anugerah itu dan tidak mungkin meraih sukses. Sikap ini adalah sikap yang umum kita temui di-mana2.
Banyak peniti2 karir yang keliru menganalisa situasi. Mereka cenderung menyalahkan faktor2 eksternal atau faktor-x sehingga tidak tergerak untuk bersikap introspektif. Karena terlalu sering menyalahkan faktor external, ia merasa ‘tidak bersalah’. Ia lantas berpendapat bahwa faktor externallah yang harus diperbaiki. Ia sudah ‘baik’. Akibatnya ia tak bersemangat untuk mengembangkan faktor internalnya. Ujungnya ia mengalami kemandegan. Terlena dalam status quo. Ability, kususnya ability jalanan tidak tumbuh. Ia nyaris tidak menyadari bahwa sikap2nya salah. Jika memahami bahwa faktor internal menjadi panglima yang menentukan kelanjutan karirnya, ia akan senantiasa mengembangkan diri. Jika berkembang, kematangan pribadinya akan ikut berkembang pula. Seterusnya kepercayaan dirinya meningkat. Dalam keadaan itu. Sikapnya makin positip. Ibarat bola salju makin lama makin besar.
Faktor sukses hanya terdiri dari 3 hal
1. Faktor Internal
2. Faktor Internal
3. Faktor Internal
Adakah faktor keempat & kelima ? Ada ! Yaitu, Faktor Internal & Faktor Internal !
Apakah Faktor internal sebatas Attitude, Ability, dan Motivasi ? Tidak, masih banyak faktor2 lain. Just to begin, ketiga faktor itu sudah memadai. Kelak anda akan mempelajari sendiri faktor2 lain. Apa saja, sepanjang itu mengembangkan faktor internalnya. Anda kini lebih fokus. Anda mempersiapkan diri untuk menjadi man for all season. Mempersiapkan diri agar mampu mempertahankan durian runtuh. Mempersiapkan diri menghadapi petaka. Expect the unexpected. Untuk seterusnya yang dimaksud dengan FI bukanlah sebatas attitude, motivasi, dan kecakapan tetapi meliputi semua hal yang berasal dari dalam diri. Termasuk pesona, karisma, kemauan keras, dll.
Orang2 yang sependapat bahwa sukses adalah karena Faktor Internal disebut memiliki Internal Locus of Control (ILC). Sedangkan mereka yang berpendapat bahwa keberhasilannya, keadaan dirinya, nasibnya, keberuntungannya, kesialannya, dll, berasal dari faktor2 luar (FE & Fx) disebut memiliki External Locus of Control (ELC).
Sejauh ini kita bicara panjang lebar tentang sukses. Bagaimana menyikapi kegagalan ? Sikap dalam menghadapi kegagalan sama pentingnya dengan sikap untuk meraih keberhasilan. Kita lihat disekitar kita. Betapa banyaknya orang2 yang dihantam kegagalan ber-tubi2 sampai ia luluh lantak dan terpuruk dalam lembah keputus asaan. Ada pula yang dihantam kegagalan beruntun tetapi ajaibnya ia selalu mampu bangkit lagi. Apa rahasianya ?
Merintis Karir 18
Locus of Control
Yang dimaksud dengan Locus of Control (LoC) adalah bagaimana seseorang mengartikan sebab musabab dari suatu peristiwa. Seseorang dengan Internal LoC adalah mereka yang merasa bertanggung jawab atas kejadian2 tertentu. Hasil adalah dampak langsung dari tindakannya. Sedangkan orang dengan External LoC adalah mereka yang seringkali menyalahkan (atau bersyukur) atas keberuntungan, petaka, nasib, keadaan dirinya, atau kekuatan2 lain diluar kekuasaannya.
Tiap orang menilai kekuatan2 yang menghasilkan keberhasilan (sukses) dan kegagalan dengan sikap ber-beda2. Seorang pelamar misalnya, test kesana kemari hanya untuk ber-ulang2 tidak lolos test. Ia bisa saja menyalahkan dirinya karena kekurangannya. Ia mungkin berpikir, ah saya sarjana payah, atau jawabanmya selalu tidak diterima. Dalam keadaan ini ia menilai kegagalannya berasal dari dalam dirinya (FI).
Suatu hari, testnya berhasil. Ia mungkin saja menilai bahwa keberhasilannya bukanlah disebabkan FI, seperti intelgensianya, kemampuannya berbahasa, dll. Tetapi karena ia beruntung. Ah, demikian pikirnya, barangkali karena tidak banyak yang nglamar. Saya satu2nya yang nglamar. Jika demikian ia menyikapi kegagalannya dan keberhasilannya dengan cara berbeda. Ia menerima kegagalannya karena FI tetapi keberhasilannya karena FE. Jika demikian orang bisa punya LoC yang berbeda, baik untuk sukses maupun gagal.
Selain dikotomi internal dan eksternal, penting untuk memahami keadaan stabil & labil. Contoh, seorang alumni test dan nilainya jatuh. Karena pada saat test ia kelelahan dan konsentrasinya buyar karena ibunya masuk UGD. Jika ia test lagi dalam keadaan bugar dan ibunya baik2 saja, ia akan bisa mencetak nilai test yang bagus. Keadaan ia sedang lelah kita sebut FI sedang labil; dan ibunya di UGD sebut sebagai keadaan (FE) sedang labil yang sifatnya sementara.
Dalam meraih sukses sebaiknya kita bersandar pada stabilitas FI. Seseorang bisa diterima di Fak. Anu karena ia mampu mengerjakan test2 sehingga diterima. Jika ia menghadapi test lagi, ia akan memiliki kepercayaan bahwa keberhasilannya disebabkan karena FI. Bukan karena rezeki nomplok, keberuntungan, dll. Secara umum, pahamilah bahwa jika anda berhasil, itu karena faktor internal anda dalam keadaan bagus (stabil).
Jika menghadapi kegagalan, strategi kita harus kita modifikasi. Jika gaga, sangat wajar dan bahkan dianjurkan untuk menyikapinya sebagai keadaan FI sedang labil. Juga FE yang kurang mendukung. Contoh, seorang atlit hari itu prestasinya memble karena sedang pilek dan kakinya kesleo (FI sedang labil), ditambah lagi cuaca habis hujan, becek dan licin (FE sedang labil). Dengan demikian harga diri dan rasa percaya dirinya terlindung dengan baik. Pada lain kesempatan dimana FI stabil dan FE seperti biasanya, ia akan berprestasi.
Yang terjadi seringkali terbalik ! Ada yang menganggap keberhasilannya karena dukungan FE, misalnya karena ekonomi bagus, dll. Dan ketika ia menghadapi kegagalan, ia malahan menuduh FI sebagai biangnya, misalnya ia merasa ia goblog. Jika kegagalan itu terjadi beruntun, lama kelamaan harga diri dan rasa percaya dirinya akan ambyar sehingga ia terpuruk.
Sikap yang benar adalah menempatkan FI sebagai faktor2 yang membuat anda meraih sukses. Jika anda meraih sukses, apapun itu. Naik gaji, promosi, beli rumah, beli mobil, dll, katakan kepada anda sendiri bahwa anda memperolehnya karena FI yang anda miliki. Apakah itu, kecerdasan, karisma, ketekunan, dll yang memang milik anda. Bukan karena FE, Fx atau anugerah dari boss, mertua, atau apapun. Anda layak mendapatkan keberhasilan itu karena jerih payah anda sendiri. Karena memang anda punya kelebihan. Jikapun anda sukses karena tidak di PHK, itu bukan karena anda beruntung atau dikasihani boss tetapi memang anda tahan banting. Jika anda tiba2 mendapat peluang, bukan karena beruntung tetapi karena anda sudah mejeng memposisikan diri untuk mengembat peluang itu.
Merintis Karir 19
Menyikapi Kegagalan
Jika berhasil, sangat bijak untuk tidak mem-besar2kan FE & Fx tetapi jika anda sedang dirundung kegagalan, lebih bijak menyimak FI, FE & Fx lebih saksama. Yang disimak apa ? Stabilitas ! Bisa jadi FI kita sedang labil misalnya sakit. Atau karena FE yang sedang labil, misalnya ada huru hara. Dengan demikian bagian FI kita yang rawan, harga diri dan rasa percaya diri, akan terlindung. Sedang labil bermakna bahwa faktor2 itu bersifat sementara. Jika faktor2 itu sudah stabil, kita akan mudah bangkit lagi dan tidak gagal. Kita bisa mengerahkan FI yang lebih berdaya guna. Dengan demikian kita mampu menghadapi kegagalan ber-tubi2 tanpa menjadi terpuruk dalam lembah keputus asaan. Kita mampu memahami bahwa kegagalan yang kita derita sifatnya sementara. Dalam kata2 puitis ‘ mendung itu tidak selalu kelabu’, ‘ badai pasti berlalu ‘, ‘ esok penuh harapan’, dsb. Cengeng dan klise ? Mungkin, tetapi percayalah, ini pernyataan ilmiah yang didukung dengan riset2.
Sebuah contoh. Seorang kawan saya menjadi sangat terpuruk ketika sering ditolak gadis yang ditaksirnya. Ia menarik diri dan patah hati. Hingga sekarang ia membujang. Ia dengan ‘bengisnya’ menyalahkan dirinya yang kurang pandai memikat gadis, kurang menarik, tanpa masa depan, dsb. Ia menganggap kegagalannya sebagai permanen dan ia sekarang tidak punya keberanian untuk memulai lagi.
Berbeda dengan kawan yang lain. Sambil terbahak ia misuh2, katanya si Eni méténya picek (buta) karena tidak mampu menilai dirinya yang (calon) milyarder. Juga si Sri yang méténya bèlèken, juga yang lain di-pisuh2i sebagai guoblog. Ia menimpakan kegagalannya ke gadis2 yang menampiknya. Harga diri dan rasa percaya dirinya terlindung. Di bisnis kawan saya dihantam kegagalan2 beruntun tetapi ia selalu bangkit lagi. Bangkit lagi dan bangkit lagi tanpa setitikpun kehilangan nyalinya. Kini ia membuktikan ucapannya. Ia suami yang setia dan bisnisman kaya yang santri.
Success is the ability to go from failure to failure without losing your enthusiasm.~ Sir Winston Churchill
Sukses adalah kemampuan meniti suatu kegagalan dengan kegagalan lainnya tanpa kehilangan semangat (nyali).
Bagian yang paling rawan adalah harga diri (self esteem) dan rasa percaya diri (confidence). Kita harus melindungi bagian2 rawan ini jangan sampai hancur. Ibarat kristal, jika FI ambyar, tidak ada nilainya lagi.
Jikapun kita menyikapi keberhasilan dengan mengapresiasi FI yang stabil kita dan menimpakan kegagalan ke keadaan labil atas faktor2 (FI, FE, & Fx) penting diingat hendaknya kita senantiasa berpijak di bumi kenyataan. Jika tidak demikian
•Kita akan kehilangan kesempatan mempelajari kegagalan yang tak ternilai harganya. Kegagalan seringkali ‘sekolah’ yang muahal. Kalau kita tidak memetik berkah darinya, rugi ! Failure is to begin more intellegently (Henry Ford). Kegagalan adalah untuk mulai lagi dengan lebih cerdas.
•Membuta tulikan keterbatasan diri. Karena terlena dengan me-nyalah2kan pihak lain ia jadi ke-géèr-en.
•Memasung daya upaya. Jika kita terlalu banyak menimpakan kesalahan pada pihak lain, kita tidak merasa punya keharusan untuk berupaya lebih keras. Atau meningkatkan pengembangan FI.
Sejauh ini kita menjabarkan bahwa sukses terletak di tiga faktor. FI, FI, dan FI. Kita sekarang juga sudah bisa menyikapi dengan bijak situasi2 jika kita meraih keberhasilan dan sikap jika kita dihantam kegagalan. Kisah direktur jadi2an adalah ilustrasi tentang labilitas FE. Bisa galak, ramah, murka, tersenyum, dsb. Selain penjabaran2 tadi, kita mendemonstrasikan pentingnya sikap (attitude) terhadap keberhasilan dan kegagalan sangat berpengaruh dalam meniti kehidupan.
Sikap adalah hal kecil yang membuat perbedaan BESAR
Mereka yang menyikapi terbalik misalnya (keberhasilan karena FE dan kegagalan karena FI), akan ambyar. Betul, banyak kasus2 bunuh diri pada remaja karena mereka (dan/atau ortunya) menimpakan kegagalan ke dirinya, terus menerus sampai ia putus asa. Ia tidak mengerti paradigma ‘labil’.
Merintis Karir 20 :
Mengukur LoC
Terlampir file loc.xls. Sheet ‘sederhana’ adalah sebuah psikotest sederhana untuk memperkirakan dimana letak locus of control anda. Test ini kurang sahih (valid) tetapi cukup untuk mendapatkan gambaran. Silahkan kerjakan test diri (selftest) dengan mengisinya secara spontan dan se-jujur2nya. Ukur berapa nilai anda dan ikuti artikel2 yad.
Jika ingin yang lebih canggih, silahkan klik
Pada sheet ‘discovery’ ada terjemahan questioner2 apabila anda merasa ragu dengan questioner2 tersebut.
Berikut peringkat LoC
1. 00-15 : Very strong external locus of control
2. 20-35 : External locus of control
3. 40-60 : Both external and internal locus of control
4. 65-80 : Internal locus of control
5. 85-100 : Very strong internal locus of control
Merintis Karir 21
Peringkat LoC
Kita sederhanakan peringkat tersebut menjadi 3
1. ELC – External Locus of Control : < 40
ELC adalah mereka yang memahami bahwa kejadian2 yang dialami lebih disebabkan oleh faktor2 diluar kendalinya. Mereka percaya bahwa tindakan2nya terdorong oleh kekuatan2 luar. Sebagai konsekuensinya ia menjadi pasifis (sangat pasip), apatis, dan punya sikap fatalistik. Ia menyerahkan dirinya kepada ‘nasib’. Kurang berinisiatif, motivasinya lemah, dan kurang berani untuk ambil resiko. Peluang untuk sukses rendah. Seandainyapun ia ‘beruntung’, tidak mudah baginya untuk mempertahankan keberuntungannya.
2. Berimbang : >=40 dan <=60
LoC berada diantara External dan Internal. Secara umum mereka menganggap bahwa sampai derajad2 tertentu mereka bisa mengendalikan dan mempengaruhi beberapa aspek kehidupan. Pada sisi yang lain mereka merasa bahwa keadaan2 yang terjadi berada diluar jangkauannya. Mereka yang lebih dekat ke angka bawah (40) lebih bersikap eksternal, kehidupannya banyak dipengaruhi faktor2 eksternal. Mereka mirip ELC, condong bersikap fatalistik dan pasip. Peluang meraih sukses tidak mudah. Mereka yang mendekati angka tinggi (60) cenderung menganggap kejadian2 yang menimpanya kebanyakan adalah karena perbuatan2nya. Mereka cenderung bertanggung jawab dan menghargai dirinya bahwa keberhasilan2 yang dicapainya adalah karena FI yang dimiliki.
Mereka ini berimbang dalam menyikapi faktor2 internal maupun eksternal.
• Sangat penting untuk menerima keterbatasan dirinya.
• Tidak kalah pentingnya untuk senantiasa berupaya semaksimal mungkin dalam menggapai keberhasilan.
• Walaupun secara umum keadaan berimbang adalah sehat, upayakan untuk menaikkan peringkat lebih ke Internal.
3. ILC
LoC berada di Internal. Mereka mengartikan bahwa hasil2 yang terjadi berasal dari FI, bisa kecerdasan, pesona, ketekunan, kekerasan kemauan, dll. Hasil adalah akibat dari tindakan2nya. Secara umum sikap ini menghasilkan
• Kemauan untuk bertanggung jawab
• Mudah dimotivasi
• berdaya juang tinggi,
• gigih,
• punya nyali bertarung dengan resiko.
Tak pelak lagi ILC memiliki peluang lebih bagus untuk meraih sukses.
Secara teknis kita bisa katakan bahwa ELC adalah ‘kurang sehat’, Berimbang adalah ‘normal’ dan ILC adalah ‘sehat’. Ini memperkuat rumus yang sudah kita jabarkan S = {FE(FI)+FI+Fx(FI)}
Sikap Bertanggung jawab
ILC tidak mudah menyalahkan ke faktor2 luar. Ia terbiasa memikul tanggung jawab atas peristiwa2 yang dialaminya. Kemauannya untuk bertanggung jawab terbawa keluar. Orang2 mencari mereka yang punya tanggung jawab tinggi dan ILC biasanya mendapatkan pekerjaan2 atau tugas2 yang menuntut tanggung jawab. Makin tinggi jabatan seseorang makin besar tanggung jawabnya. Tanggung jawab yang terasa berat bagi kebanyakan orang menjadi relatip enteng bagi ILC. Sebaliknya, yang bukan ILC kurang terbiasa bertanggung jawab. Mereka mudah men-cari2 kambing hitam. Atau, tanggung jawab terasa sebagai beban bagi ELC. Ini menghambatnya ke titian yang lebih tinggi.
Mudah dimotivasi
Jika mereka yang memiliki sikap Berimbang digambarkan sebagai premium, maka ILC adalah premix atau super-tt. ILC sangat responsif dengan motivasi. Mampu menghasilkan self motifvation. Sebaliknya, yang bukan ILC sering lemah motivasinya karena mereka sering menyandarkan pada nasib.
Daya juang tinggi dan gigih
Karena ia merasa bahwa nasibnya bukan ditentukan oleh faktor2 diluar dirinya, otomatis ILC memiliki daya juang yang tinggi. Ia mendapatkan segala sesuatunya dengan berupaya, bukan hanya dengan mengharap datangnya rezeki. Non ILC bersandar pada kejadian2 diluar kendalinya dan sering berpendapat buat apa repot2, nanti toh nasibnya akan ditentukan oleh faktor2 luar itu. Akibatnya daya juang non ILC memble, mudah menyerah. Sikap gigih adalah faktor penentu dalam menggapai keberhasilan. Sukses berkorelasi positip dengan kegigihan.
Punya Nyali
ILC memiliki nyali untuk ambil resiko karena ia punya keyakinan untuk mengendalikan kehidupannya. Ia berani berpindah pekerjaan, berseberangan dengan atasan, berinvestasi, mengemukakan pendapat, dst, dst. Masuk akal jika ILC punya peluang tinggi untuk meraih sukses. Sebaliknya, non ILC bersikap ‘gambling’, berjudi, dan untung2an. Jika mendapatkan keberuntungan ILC mampu mempertahankan menjadi lebih langgeng. Sebaliknya, non ILC sulit mempertahankannya. Nyali bukan hanya untuk pengusaha. Semua orang harusnya memiliki sikap ini. Semakin tinggi jabatan, makin banyak nyali dibutuhkan terutama untuk tindakan2 tidak populer seperti PHK.
Simulasi
Aplikasi menyikapi kegagalan
Pertanyaan : Untuk yang baru lulus saat itu (1998), gimana ?
Saya terpaksa menangguhkan pertanyaan tersebut karena jawabannya ada dua dan berbeda. Bagi ILC dan non ILC. Sekaligus simulasi paradigma2 yang sudah diposting.
Tahun 1998 adalah ketika FE sangat buruk. Banyak PHK, pengangguran, harga2 naik, dst, dst. Yang lulus tahun itu mengalami situasi yang tidak menguntungkan. Apa yang harus kita lakukan jika teman, tetangga, saudara, dll meminta saran kita ketika mereka dihajar kegagalan bertubi dalam mencari pekerjaan.
Bagi ILC
Orang2 ini rentan karena mereka bisa kehilangan harga diri dan kepercayaan dirinya manakala pekerjaan tak kunjung didapat atau pekerjaan yang didapat tak sesuai dengan harapan. Mereka cenderung menimpakan kegagalannya kepada dirinya dan bisa mennyebabkan luka yang mendalam dan bisa permanen.
Yang pertama kita tekankan adalah dikotomi ‘stabil’ dan ‘labil’. Situasi 1998 adalah situasi ‘labil’. Dan sangat bijak jika kita menyenandungkan ‘badai pasti berlalu’, atau ‘mendung itu tidak selalu kelabu’, atau ‘esok penuh harapan’.
Kedua, melakukan ‘externalisasi’, yaitu berupaya agar ia secara realistis menimpakan (sebagian) kegagalannya ke faktor external. Th 98 adalah bukan saja petaka nasional tetapi sudah ke level regional Asia Tenggara.
Yang ketiga, mengajak mereka untuk menyikapi kegagalan2 lebih saksama. Contoh2 :
•Success is the ability to go from failure to failure without losing your enthusiasm.~ Sir Winston Churchill
•Failure is to begin more intellegently.~ Henry Ford
•I don’t measure a man’s success by how high he climbs but how high he bounces when he hits bottom.~ General George S. Patton
•Do not let what you cannot do interfere with what you can do. John Wooden
Sukses adalah kemampuan beranjak dari kegagalan demi kegagalan tanpa kehilangan gairah (nyali)
Kegagalan adalah untuk memulai lagi lebih cerdas
Aku tidak menilai keberhasilan seseorang dengan mengukur berapa tinggi ia naik tetapi seberapa tinggi ia bisa memantul kembali ketika jatuh kebawah.
Jangan biarkan apa yang tidak bisa kau lakukan merecoki apa yang bisa kau lakukan.
ILC sangat mudah dimotivasi. Tiga langkah tersebut diatas sudah cukup untuk melindungi ybs dari keterpurukan. No prablim, lah.
Non Ilc
Secara teknis sebenarnya bagian dalam mereka baik2 saja. Bahkan banyak yang menyalahgunakan situasi buruk ini sebagai ‘pembenaran’ untuk pasivismenya, pesimismenya, atau fatalismenya. Non ILC tidak mudah dimotivasi. Makin rendah LoC, makin sulit mereka didorong. Mereka perlu dorongan2 agar mau berupaya lebih keras. Ini adalah persoalan yang memusingkan direktur2 SDM. Berbagai upaya mereka lakukan untuk mendorong non ILC. Dari uang lembur, uang makan, bonus, insentif, penghargaan2, hadiah, dst, dst.
Kita tidak perlu mendendangkan lagu2 mendung itu kelabu buat mereka. Tidak ada apa2pun mereka cari2 dalih untuk me-nyalah2kan kambing hitam. Men-cari2 pembenaran supaya mereka tidak perlu bersusah payah. Menghadapi kasus seperti ini saya menyarankan solusi jangka menengah/panjang. Yaitu dengan menggeser LoC yang akan kita posting tahun depan.
Jika berhasil
Jika berhasil, baik untuk ILC maupun bukan, entah itu kecil seperti mendapat pekerjaan atau yang besar, seperti mendapat gaji gede + mertu kaya, dll, berikan kredit atau penghargaan kepada kualitas2 istimewa dalam diri anda. Entah itu pesona, kecerdasam, kegigihan, dll. Pahamilah bahwa keberhasilan anda bukanlah karena keajaiban alam, jompa jampi mbah dukun, nyai Blorong, rezeki, dll. Kita sudah membuktikan sampai ber-lembar2 bahwa keberhasilan adalah karena Faktor2 Internal anda. Karena anda yang istimewa. Camkan baik2 ini !
Biasakan menyatakan penghargaan anda kepada diri sendiri dengan hadiah2, mulai yang kecil2 sekadar ngebakso dengan yang tersayang sampai main rolet di Las Vegas, beli moge, beli buku2 bagus. Atau, kencan dengan artis ndang ndut ? (Hanya bagi yang lajang, lho). Atau melakukan/menyumbang kegiatan2 religius dan sosial
Banyak yang berdoa keliru. Misalnya mensyukuri kenaikan gajinya. Bukan, tetapi mensyukuri pengembangan FI sehingga anda bisa naik gaji ! Ini sikap kecil tetapi hasilnya sangat besar bedanya.
Batasnya adalah menjaga jangan sampai anda menjadi overconfident, terlalu percaya diri atau takabur. Sikap ini sama buruknya dengan kurang percaya diri dan rendah diri.
Merintis Karir 22
Evaluasi Peringkat LoC
Populasi
Saya ragu ada yang mencetak score dibawah 20. Beberapa mungkin berada diantara 20-40. Jumlahnya pasti sangat sedikit. Yang terbanyak ada diantara 40-60, yang kita sebut ‘normal’. Mereka ini prestasinya biasa2 saja. Angin2an, labil. Kadang bagus, kadang kurang. Yang diatas 60 secara umum jumlahnya sedikit tetapi, saya rasa jumlahnya cukup signifikan. Diatas 80 sudah sangat jarang.
Statistik
Sebuah statistik membuktikan bahwa Business Corporate Excecutive dan elite Militer (USA) didominasi ILC dengan score rata2 65-80 dari skala 0-100. Menarik untuk dikaji bahwa bukan nilai maksimum yang jadi potensi sukses. Ini bermakna bahwa orang2 tersebut berpijak pada bumi kenyataan. Mereka mengakui adanya keterbatasan2 manusiawi. Memiliki ILC bukanlah jaminan sukses tetapi yang pasti memiliki potensi sukses lebih baik.
Yang sudah memiliki score tinggi sudah memiliki sikap yang sehat. Perlu dipahami bahwa ILC sangat rentan terhadap kegagalan yang ber-tubi2. Bagian dalamnya bisa terhajar sampai luka parah. Namun dengan menyimak artikel simulasi menyikapi kegagalan yang lalu, paling tidak anda sudah tahu bagaimana melindungi bagian yang rawan itu. Menyadari keterbatasan manusiawi bak mengenakan rompi anti peluru. Dan bersandar pada dikotomi ‘labil’ dan ‘stabil’. Mendung tak selamanya kelabu.
Mereka yang rata2 atau memiliki LoC berimbang masih punya ruang untuk meningkatkan LoC. Kabar baiknya, ada kemungkinan mereka duduk diatas harta karun ! Karena faktor2 internal mereka belum diexplorasi dan diexploitasi secara maksimal. Selama ini mereka terlalu pasip untuk mengembangkan diri. Mereka harus meningkatkan daya juangnya hingga mencapai level gigih.
Yang skorenya rendah tidak perlu berkecil hati. Peringkat bisa dinaikkan. Ini bukan masalah genetik seperti bentuk & tinggi badan, dll yang nyaris mustahil dirobah. Ini masalah attitude. Bagaimana kita menyikapi faktor2. Bagaimana kita menyikapi keberhasilan maupun kegagalan. Juga, mereka kemungkinan menyimpan FI yang masih terpendam. Sayang sekali jika potensi2 ini dibiarkan terkubur karena pembawaan fatalistik itu, bukan ?
Apapun hasilnya, apakah ILC atau non ILC, selalu kabar baik. Apakah peringkat LoC bisa berubah. Ya, bisa ! Gampangnya, ketika kita masih balita, score LoC kita pasti sangat rendah, nyaris tak berdaya terhadap faktor2 eksternal. Seiring dengan pertumbuhan usia, LoC makin naik. Kadar internal naik dan kadar eksternal turun. Sesudah ABG, terjadi perkembangan yang berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Ada yang mandeg, ada yang bertumbuh. Ada yang digempur kegagalan2 dan menjadi apatis. Ada yang diajari falsafah2 yang salah. Ada yang menuai keberhasilan2 kecil tetapi terus menerus dan LoC berkembang sehat.
Penutup
Semula saya berniat mengangkat materi Karir, Managerialship dan Enterpreneurship tetapi kemudian artikel ini bergulir ke hal2 yang lebih fundamental dan elementer. Akibatnya judul dan isinya menjadi tidak klop. Biarlah begitu. Tidak banyak manfaatnya saya mengangkat materi2 ‘intermediate’ jika ybs belum mencapai tataran ILC. Artikel ini menekankan Attitude dan Internalisasi faktor2 keberhasilan yang bisa menjadi modal awal dalam perjalanan anda mengarungi bahtera karir yang tak bertepi.
Ketika jabatan kita naik, makin banyak keputusan2 yang harus kita buat. Makin besar pula keputusan2 yang kita buat. Selain itu, makin banyak kita harus menentukan sikap. Semakin penting bagaimana kita menyikapi sesuatu. Celakanya tidak ada Fakultas Sikap. Mana ada ?
Berhubung libur akir tahun, kita lanjutkan ke sesi ke III, yang terakir, tahun depan. Berupa teknik2 praktis menaikkan peringkat LoC dan self-esteem (harga diri) sebagai penutup.
It is wise to keep in mind that neither success nor failure is ever final.~ Roger Babson
Sangat bijak untuk memahami bahwa baik keberhasilan maupun kegagalan tidak pernah final. Ingat, sukses is a journey, not destination.
Selamat Natal & Tahun Baru
Simulasi Kasus
Dikotomi labil & stabil
Kita simak lagi surat yll sebagai studi simulasi :
… soal faktor internal, eksternal and X (saya setuju banget soal faktor X! mungkin malah X pangkat x hehehe…).
” … alasan saya tanya adalah, gak akan banyak gunanya (saya aliran pesimis kalo udah gini..) .. karena, untuk mengubah orang dewasa itu sulit… bisa dihitung deh dengan jari… memang ada, contohnya kakak teman saya yang berubah 180 derajat setelah membaca buku poor dad rich dad… tapi kalo mo jujur, berapa sih yang berubah seperti itu? balik lagi ke faktor internal tadi … yaitu orang2 yang punya kualitas lebih… yang udah punya modal atau bakat lebih in their childhood.. “
Dengan observasi dari luar kita bisa menebak bahwa ybs adalah ELC. Lihat yang digaris bawahi. Ia bersandar pada faktor-x, pesimis dan skeptis terhadap artikel ini, apatis, berpendapat bahwa merobah orang dewasa sulit, dan fatalistik dengan menyatakan bahwa nasib kita sudah ditentukan sejak masa kanak2.
Pertama, jangan gegabah dulu menghakimi seseorang. Mungkin saat itu ia sedang ‘labil’. Entah sedang sakit gigi, entah sedang depresi dirundung duka, dll. Mungkin juga lingkungannya sedang labil. Jika ia mengemukakan pendapatnya dalam keadaan baik dan suasana lingkungan yang baik, maka tak salah lagi ia adalah ELC.
Jika ia ELC andapun akan sependapat dengan saya – sulit baginya untuk sukses. Apatismenya, pesimismenya, dan fatalismeya bahwa ia sudah tak bisa lagi berubah akan membuatnya terpasung dalam deraan nasib. Ia menyatakan apatismenya bahwa artikel ini tidak akan banyak gunanya. Dapatkah anda bayangkan jika ia tidak pernah membaca artikel ini ? Untunglah ia menyadari kekeliruan sikapnya. Saya berbahagia artikel ini tidak sia2. Seseorang terhindar dari perosok lubang yang lebih dalam.
Jika anda dalam kategori ‘normal’ dan membaca sampai baris ini, maka anda akan beranjak dengan sikap yang lebih benar. Karena saya mengalami dan membuktikan sendiri. Ketika kuliah tak kunjung selesai, saya mulai dirundung bete dan meragukan diri. Seorang kawan mahasiswa Psikologi iseng2 mengetest saya dan hasilnya saya adalah ELC. Ia meyakinkan saya bahwa saya (saat itu) sedang ‘labil’ dan LoC bisa digeser; dan ‘nasib’ saya akan lebih baik.
Ia tidak bohong, sekian puluh tahun kemudian, ‘nasib’ saya jauh lebih baik. Saya dulu tidak punya nyali, takut / enggan memikul tanggung jawab, mudah menyerah, fatalistik, apatis dan sulit dimotivasi, dst, dst. Prestasi tidak stabi. Kadang bagus kadang memble. Sifat berharga yang saya akuisisi dari menggeser LoC antara lain gigih, punya nyali, dan mudah memotivasi diri.
Saya ingin membagikan sekelumit pengalaman ini kepada siapa saja yang dengan tekun menyimak artikel ini.
Semoga bermanfaat.




