Mimpi

A dream is just a dream, A goal is a dream with a plane and deadline

Ditulis Oleh : Nukman Luthfie
Diposting di : Mailing List UGM
Profile
NUKMAN LUTHFI

Nukman Lutfi, pendiri dan Direktur Pengelola Virtual Consulting adalah praktisi Strategi Internet, Pemasaran Internet serta e-Bisnis. Jebolan Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada ini lama berkecimpung di dunia dotcom. Sejak Internet meledak di Indonesia awal tahun 1990-an, mantan redaktur senior SWA ini langsung bergabung dengan Agrakom (PT Agranet Multicitra Siberkom), perusahaan web developer pertama di Indonesia.
Karirnya menanjak pesat dan ia menduduki posisi Direktur Internet Services Agrakom yang bertanggungjawab mengembangkan jasa solusi Internet Services. Hobinya di dunia jurnalistik dan komunikasi dipadu dengan teknologi Internet. Sebelum Internet muncul, dunia komunikasi dan jurnalistik seolah-olah hanya menjadi dunia mereka yang memiliki kemampuan tersebut. Demikian juga, dunia Teknologi Informasi (TI) hanya didominasi oleh mereka yang sehari-hari bergelut dengan dan menghadapi komputer. Dunia Internet sesungguhnya merubah segala, memadukan dunia yang tadinya terpisah antara TI dan komunikasi. Dengan memadukan TI dan komunikasi inilah ia mengomandani Internet Services Agrakom.
Hasilnya, Agrakom menjadi web developer terbesar di Indonesia, dengan portfolio bisnis yang bagus. Ratusan website perusahaan besar Indonesia berhasil dibangun perusahaan ini, mulai yang hanya corporate site, e-commerce, e-bisnis, hingga portal. Ketika Agrakom melahirkan Detikcom, ia dipercaya sebagai Direktur Marketing Detikcom, yang bertanggungjawab terhadap pendapatan iklan online. Berkat fenomena yang luar biasa, Detikcom menjadi portal nomor satu di Indonesia dari segi pengunjung. Sebuah fenomena pula, Detikcom menjadi portal yang mendapatkan iklan online terbesar di Indonesia.
Pengalaman bertahun-tahun di dunia dotcom inilah yang membuat Nukman menjadi salah satu pembicara dan penulis aktif mengenai dunia dotcom dan pemasaran Internet. Sejak tahun 2003, ia mengomandani perahu baru yang ia buat sendiri: Virtual Consulting, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konsultasi Strategi Internet, Internet Marketing, pembangunan dan pengelolaan website dan portal, serta Direct Marketing
Mimpi (01)

Banyak orang sukses karena mereka berani bermimpi namun tekun dan cendekia mengejar mimpinya. Biasanya mereka yang sukses melakukan tahapan seperti ini : Gantung mimpi tentang sukses setinggi langit.
Uraikan mimpi menjadi sasaran-sasaran. Wujudkan sasaran-sasaran menjadi tugas-tugas. Jadikan tugas-tugas dalam langkah-langkah. Lakukan langkah pertama dan ikuti dengan langkah-langkah berikutnya. Teruslah melangkah dengan tegar dan cerdik meski batu menghalang di depan. Mimpi, seperti ditulis pakde Broto, jika didayagunakan akan membawa berkah dan pemacu intuisi. Masfuk, orang Jawa miskin yang berhasil menjadi orang kaya, dalam bukunya “Orang Jawa Miskin Orang Jawa Kaya” menuturkan bahwa mimpi adalah langkah pertama yang mesti diambil untuk menuju sukses.
Tanpa mimpi, banyak orang tidak maju, karirnya jalan di tempat, dan ia menjalani rutinitas yang membosankan. Saya ingat betul dengan seorang penjual gethuk cantik di pasar dekat rumah, ketika saya masih SMP, yang suka manggil saya untuk beli dagangannya. “Cah bagus, arep tuku opo: gethuk, tiwul opo cethot?” Waktu SMP, karena masuk siang, saya memang dapat jatah pekerjaan rumah untuk belanja harian ke pasar meski saya anak laki-laki.
Sembilan tahun kemudian, tatkala saya hampir lulus kuliah, ia masih duduk di tempat yang sama, dengan gendhongan yang sama, cara memotong gethuk yang sama. Tak ada yang berubah. Perubahan yang kelihatan jelas adalah bertambah kerut wajahnya dan rambutnya yang kian memutih. Perubahan lain, ia lupa saya. Tak pernahkah ia bermimpi untuk menjadi juragan gethuk? Tak sempatkah ia membangun mimpi memiliki “pabrik rumahan” gethuk, tiwul dan cethot yang melayani para penjual gethuk gendongan? Sayang, saya waktu itu tak punya ilmu mimpi. Jadi kalaupun saya tanya waktu itu, jawabannya kira-kira seperti ini: “Oalah cah bagus, ngene wae wis cukup kok.” Begini saja sudah cukup, kenapa harus repot-repot?
Dalam perjalanan karir, banyak orang yang bersikap seperti mbakyu Gethuk tadi, meski tidak seekstrim itu. Mereka biasanya memiliki ciri-ciri yang sangat mudah dilihat : mengerjakan hal itu-itu saja selama bertahun-tahun tanpa ada tambahan “value” yang berarti. Value ini bentuknya beraneka ragam, tapi yang paling umum dipakai sebagai ukuran adalah uang atau imbalan berharga lainnya seperti stock option. Ciri lain : bekerja bertahun-tahun di tempat yang sama sambil menggerutu merasa tidak diperlakukan dengan adil oleh manajemen, gajinya tidak dinaikkan, tidak diberi tantangan baru, dan segudang keluhan lain. Namun lucunya, ia tidak mau pindah karena banyak alasan.
Mimpi, kadang merupakan barang mewah. Padahal mimpi itu mudah dan murah. Tidak usah repot-repot menulis mimpi. Bulatkan saja mimpi itu dalam tekad. Ketika lulus kuliah, misalnya, mimpi saya sangat sederhana. Sebagai anak lelaki pertama, saya ingin segera berhasil sehingga mampu membiayai kuliah tujuh adik dan membantu perekonomian keluarga. Sederhana bukan? Tetapi mimpi yang ala kadarnya itu memberi energi yang luar biasa. Ini contoh “kecil”nya. Sadar bahwa merokok adalah biaya (minimal beli rokok), begitu menginjak Jakarta saya bunuh kebiasaan merokok ini.Ketika orang lain kesulitan menghentikan kebiasaan merokok, saya hanya cukup untuk memejamkan mata sejenak, maka berhentilah saya merokok sejak Februari 1990 hingga sekarang. Apa pendorongnya? ya hanya mimpi tadi. Bayangkan betapa berharganya uang Rp 500 per hari jika orang miskin seperti saya ke Jakarta . Dari pada buat beli rokok mending buat beli kertas folio dan perangko untuk buat surat lamaran kerja atau keliling ke seluruh penjuru Jakarta naik bis kota.
Mimpi itu pula yang membantu saya melepas predikat sarjana teknik. Peduli amat dengan gelar sarjana, sebelum ada kerjaan pasti saya memberikan les privat matematika dan fisika ke anak-anak SMA dan SMP. Ada yang rumahnya sederhana di Sunter. Ada yang magrong-magrong di Senopati. Cuek saja ke sana kemari naik bis dan keringatan. Yang penting ada nafkah dan modal untuk survive di Jakarta. Gara-gara nggak punya udel dalam mencari nafkah itu, keberuntungan mampir ke saya. Saya sempat ngelesi cucu Wakil Presiden Sudarmono di Senopati serta anak Direktur Bank Exim waktu itu yang kebetulan lulusan UGM. Mereka membayarnya sesuka-suka. Ketika di Sunter sekali datang saya dibayar Rp 10.000,-, saya dibayar Rp 75.000 hanya dua kali datang ke cucu Sudarmono. Uang segitu mewah untuk tahun 1990. Apalagi untuk cah ndeso yang baru di Jakarta dua bulan.
Mimpi, pada tahapan ini, minimal mampu membuat kita — paling tidak, saya — beringas dan kejam terhadap diri sendiri untuk mengejar sukses. Mampu membuat kita tegar menghadapi situasi seburuk apapun. Pada tulisan selanjutnya akan saya umukkan bagaimana mimpi bisa mendorong kita menemukan “keberuntungan-keberuntungan”.
Mimpi (02) : Keajaiban Mimpi Kecil Itu Terus Berlanjut

Kadang saya tercenung dan nyaris tak percaya melihat adik-adik saya sekarang berkembang begitu pesat. Adik terkecil, kini sudah menjadi copywriter iklan yang diakui di Jakarta. Ia pernah menjadi copywriter termuda di Jakarta. Hasil karyanya pernah menyabet penghargaan Citra Adipariwara.

Kini ia mondar-mandir Jakarta, Singapura, Malaysia. Bahasa Inggrisnya cas cis cus. Dua bulan lalu ia bulan madu ke Bangkok dan jalan-jalan ke negara Asia lain. Pendidikannya? Hanya lulusan SMA!
Kakaknya bisa lulus Teknik Industri ITB dan langsung jadi wiraswasta. Adik saya yang lain jadi Account Manager sebuah PMA dari Singapura. Beberapa yang lain masih berusaha agar jadi orang yang mapan.
Itukah keajaiban mimpi kecil “Survive di Jakarta dan menyekolahkan adik2 dan membantu ekonomi orang tua” 14 tahun lalu? Saya tidak sangsi lagi. Indah? Jelas. Namun untuk menggapai keajaiban itu banyak jalan yang harus ditempuh. Kalau pakai satu jalan saja, pasti saya sudah tewas kleleran dan keajaiban itu tak terwujud.
Soal keuangan misalnya. Ketika belum mampu mengelola uang, saya tidak mampu menabung sepeserpun. Setiap terima gaji, habis buat bayar SPP adik, buat keperluan sekolah, dan lain-lain. Oleh karena itu, saya bekerja sehebat mungkin agar dapat gaji di atas rata-rata. Hanya tiga bulan kerja di harian bisnis, saya pindah ke media bisnis mingguan dengan gaji naik 30%. Di media baru itu pun saya bekerja tak kalah keras sehingga mampu menembus batas-batas konvensional. Seorang reporter muda misalnya baru boleh menulis setelah 2 tahun. Tapi enam bulan jadi reporter saya sudah diangkat menjadi penulis. Begitu seterusnya. Otomatis gaji saya paling tinggi diantara reporter seangkatan.
Meski begitu, uang itu tidak cukup untuk mewujudkan cita-cita tadi. Saya beranikan diri membuka perusahaan komputer dan Teknologi Informasi (IT) di Bekasi bersama teman-teman. Tidak ada setahun, bisnisnya berantakan. Rugi. Apes. Tapi saya mendapat pengalaman luar biasa dari kegagalan ini. Untung, karena dorongan mimpi kecil itu saya ubet nyari uang lain. Karena pandainya “cuma” menulis saya mendalami hal-hal khusus yang penulis lain enggan, nulis tentang IT. Dari pemahaman terhadap dunia IT inilah saya laku sebagai penulis advertorial yang sering dikontrak oleh agensi iklan. Ini tulisan komersial. Saking langkanya penulis advertorial IT, saya ketiban banyak rezeki. Bahkan kadang-kadang untuk urusan sepele – seperti menterjemahkan siaran pers perusahaan IT multinasional ke dalam bahasa Indonesia. Pendapatan saya dari sini tak jarang melebihi gaji bulanan.
Mimpi kecil, ternyata bukan hanya membuat saya “Mampu beringas dan kejam pada diri sendiri” dan “Memompa semangat untuk bekerja di atas rata-rata” seperti saya sampaikan di tulisan sebelumnya. Lebih dari itu, mimpi kecil mampu membuat saya jadi semakin KREATIF mencari sumber pendapatan baru.
Meski demikian, prestasi itu tergolong kecil dibanding langkah yang lain: menebar mimpi ke adik2. Ketika satu persatu adik saya ajak ke Jakarta, mereka dengan cepat membangun mimpi yang sama. Di Jakarta mereka saya beri pilihan, mau kerja atau sekolah. Apapun pilihannya saya dukung. Hal yang kelihatannya sepele ini ternyata juga penuh liku. Syukurlah adik2 memiliki mimpi yang sama sehingga mendapat keajaiban yang mungkin tak kalah dari saya.
Mereka makan seadanya di rumah kontrakan amat sederhana di Cililitan. Mereka mau memasak di rumah. Tak pernah minta uang kakaknya meski kantong kosong. Mereka ubet ke sana ke mari. Terkadang saya “menangis tanpa keluar air mata” melihat adik yang dengan badan berbasah peluh kelelahan pulang mencari kerja dan makan indomie rebusan sendiri di ujung pintu rumah. Kadang saya terpikir betapa kejamnya saya membiarkan mereka pontang panting cari kerja padahal dengan jaringan bisnis saya waktu itu dapat saja menitipkan mereka ke perusahaan yang layak. Saya biarkan mereka mencari jalannya sendiri.
Dan inilah keajaiban menebarkan mimpi ke mereka: adik pertama dapat kerja, membawa adik kedua ke jakarta. Adik kedua membawa adik ketiga. Dan seterusnya. Praktis tujuh adik saya permah ke Jakarta semua. Itulah langkah subsidi silang ala orang ndeso yang ternyata berhasil. Jika ada yang mengira saya mengentaskan adik-adik, itu pendapat yang salah. Mereka mengentaskan diri sendiri. Peran saya hanya sebatas menyediakan rumah untuk berlabuh, makan secukupnya, uang ala kadarnya, serta contoh semangat tarung yang tinggi melawan nasib di Jakarta.
Mimpi kecil, ternyata sanggup membuka simpul-simpul keterbatasan kita. Kreativitas kita yang biasanya terbelenggu karena kurang ditantang oleh keadaan, bisa jebol karena mimpi-mimpi kecil seperti ini. Betapa hebatnya jika mimpi yang mampu melahirkan kreativitas ini diterapkan dalam karir dan bisnis.
Mimpi (03) : Mimpi Yang Terbunuh

Ada beberapa yang menanyakan, mengapa ia tak pernah berani bermimpi meski dulu ketika masih kuliah mimpinya bejibun? Bahkan ada yang terasa ekstrim bertanya mengapa ia tak punya mimpi.
Ada pula yang secara guyon mengatakan: saya malas mimpi atau saya tidak pernah mimpi karena tidak pernah tidur.
Saya yakin, semua orang sebenarnya punya mimpi. Saya pun semula tak tahu kalau apa yang saya tekadkan selama ini saya golongkan mimpi. Definisi mimpi baru saya kenal ketika mendapat kesempatan menjadi eksekutif puncak perusahaan dan terjun ke dunia usaha, yang setiap tahun harus membuat visi dan misi. Susahnya luar biasa membuat visi dan misi perusahaan. Visi yang ditetapkan Astra International bahwa pada tahun 2006 harus “To be one of the best managed corporation in Asia Pasific with the emphasis on building competence through human resources development, solid financial structure, customer satisfaction and efficiency” dan “To be a socially responsible corporation and being environmentally friendly” lahir dari pergulatan yang panjang, melelahkan dan melibatkan banyak pakar. Itulah mimpi Astra dua tahun ke depan.
Saya baru sadar bahwa metode yang sama bisa diterapkan dalam lingkungan personal, diri kita sendiri, baru beberapa waktu lalu. Kemudian dikipasi oleh tulisan pakde Broto, bahwa mimpi bila didayagunakan akan membawa berkah dan oleh Masfuk yang mengatakan bahwa hanya mereka yang berani bermimpilah yang sukses. Ternyata setelah saya renungkan, mimpi saya banyak. Bahkan orang lain pun ternyata memiliki mimpi yang banyak pula. Dari email-email japri yang masuk, banyak yang menceritakan mimpi-mimpi mereka. Ada yang ingin jadi pengusaha sukses setelah cukup lama jadi profesional. Ada yang ingin jadi cerpenis dan novelis. Ada pula yang mengutarakan mimpi-mimpi lain yang terlupakan karene tergerus oleh rutinitas kerja.
Tetapi mengapa ada yang merasa malas dan tak mampu bermimpi lagi? Mimpi, sepengatahuan saya, memang bisa terbunuh. Pembunuh utama mimpi adalah kegagalan dan kelelahan kita mewujudkan mimpi. Kalau mimpi kita ketinggian, terlalu kompleks, njlimet, tanpa melihat diri kita sendiri dan lingkungan pendukungnya, maka kita akan termehek-mehek mengejarnya. Bukan manis yang diraih, justru pahit yang didapat. Begitu mimpi kita gagal kira raih, tak mudah membangun mimpi lagi.
Oleh karena itu, saya membiasakan diri membuat mimpi-mimpi kecil. Yakin, sesuatu pencapaian yang sangat kita idam-idamkan, yang kita yakini bisa kita raih dengan usaha, ketekunan dan kecerdikan di atas rata-rata. Yang pernah saya sebutkan misalnya “”Survive di Jakarta dan menyekolahkan adik2 dan membantu ekonomi orang tua”, dapat dilanjutkan (atau bisa juga diparalelkan) dengan mimpi lain “Memiliki sorga dunia berupa rumah mungil dengan halaman luas di Jabotebek di mana kita bisa berlabuh, menyalurkan hobi berkebun dan melihat binatang piara”, atau “Menghajikan Orang tua dan Mertua”. Mimpi-mimpi kecil itu ternyata melahirkan mimpi-mimpi baru. Gara-gara saya mimpi punya rumah mungil di tanah yang lapang, saya bekerja di atas rata-rata sehingga memicu munculnya mimpi-mimpi bisnis dan manajemen. Beberapa tahun lalu setelah rumah kecil berhalaman luas terwujud, berpuluh-puluh mimpi-mimpi kecil yang sifatnya personal dan bisnis pun semakin liar bermunculan.
Pembunuh mimpi kedua yang terbesar adalah lingkungan yang beku. Institusi pemerintah, yang bergerak lamban (atau malah mundur), adalah pembunuh ideal mimpi. Kenaikan karir yang lambat karena harus mengikuti prosedur baku, intrik yang berkepanjangan antar kelompok, pekerjaaan yang itu-itu saja sepanjang tahun, mendominasi suasana kerja di lingkungan institusi pemerintah adalah pembunuh sejati mimpi. Saya banyak menyaksikan teman-teman yang dulu bergairah, begitu menjadi pegawai negeri berubah menjadi orang yang dingin dan tidak punya semangat tarung meraih “value” yang lebih tinggi. Memang ada beberapa teman pegawai negeri yang masih mampu menjaga mimpinya, tapi itu manusia langka.
Terjebak dalam perusahaan yang tidak mampu memaksimalkan kemampuan kita juga sebuah lingkungan yang buruk untuk membangun mimpi. Begitu juga terlalu lama terkungkung dalam satu perusahaan swasta dengan pekerjaan yang sama dan gaji yang tidak naik-naik, ataupun kalau naik paling tinggi sama dengan nilai inflasi, juga lahan pembantaian mimpi. Sayang sekali, institusi pendidikan, yang seharusnya melahirkan banyak pemimpi-pemimpi kecil, diisi oleh pendidik-pendidik yang justru sebagian besar tidak bernyali mimpi.
Bagaimana lolos dari serangan pembunuh mimpi? Tunggu episode berikutnya.
Catatan :
Ada yang tanya kenapa saya bisa nulis terus. Apa tidak mengganggu pekerjaan? Alhamdulillah, saya dikaruniai kemewahan untuk bisa menulis “di mana” saja kapan saja saat ini. Dalam perjalanan rumah-kantor yang memakan waktu satu jam bisa membuka laptop, menulis, sambil mendengarkan lagu kesayangan. Di jam kerja pun, kalau mau, saya bisa menulis. Pada jam kerja, saya bisa saja keluar kantor dan nongkrong di StarBucks Café sambil nulis. Tidak ada yang melarang. Bahkan, saking hormatnya saya dengan client, mitra bisnis dan lain-lain, saya selalu usahakan datang 30 menit sebelum waktu meeting. Sambil menunggu mereka, saya buka laptop atau corat-corat kertas atau PDA. Inilah salah satu kemewahan dari buah mimpi-mimpi kecil. Atau di tengah malam buta, ketika mata tak juga terpejam, saya bisa membuka laptop menulis sesuatu, sambil sesekali memandangi wajah teduh istri yang terbuai bunga tidur: mimpi dalam arti sesungguhnya

Mimpi (04) : Lolos Dari Sergapan Pembunuh Mimpi
Pembunuh nomor wahid. Trauma Kegagalan.
Gagal menggapai mimpi menyakitkan bagi banyak orang, meski akal sehat mengatakan bahwa sukses mewujudkan harus dilewati melalui proses panjang, termasuk menelan beberapa kegagalan.
Saya sangat suka dengan istilah pakde Broto yang saya kutip secara bebas dan panjang seperti ini: “Tidak ada langkah tunggal menuju sukses. Yang pasti, jutaan langkah harus diayun menuju ke sana. Jutaan langkah yang seringkali tidak terduga, yang tak terbayangkan sebelumnya, karena munculnya hadangan di depan yang luput dari perhitungkan awal.”
Kadang langkah begitu mudah dan nyaman karena kita sudah siap jauh-jauh hari dengan perhitungan matang. Tapi tak jarang, tiba-tiba faktor X muncul dan mengganggu skenario dan menjungkalkan mimpi kita. Pada tahun 1997, banyak perusahaan tumbang karena faktor X berupa badai ekonomi, sehingga banyak tagihan macet di tengah jalan, proyek ditunda, atau dihentikan di tengah jalan. Akibatnya, cash-flow perusahaan kacau balau. Apa boleh buat, PHK dan tenggelamnya perusahaan menghiasi lembaran sejarah bisnis Indonesia.
Kisah pernah gagal dalam mewujudkan mimpi adalah hal biasa. Saya yang baru pertama kali mulai bisnis pada tahun 1995, langsung menelan pil pahit berupa tutupnya perusahaan meski belum berumur setahun. Padahal, ketika mengawalinya, semangat saya luar biasa tinggi. Pahit memang. Baru langkah pertama saja sudah tertebas. Saya bahkan sempat mutung sebentar.
Membangun karir pun sama saja. Jika kita mendapat tempat kerja yang tepat, atasan yang suportif, manajemen yang bagus, kita akan tumbuh pesat. Pada praktiknya, sorga seperti itu amat langka. Yang sering temui adalah selalu ada tantangan meningkatkan karir, seperti manajemen yang dirasa kurang memihak karyawan, praktik like and dislike, pembatasan ras tertentu untuk mendapat hak istimewa (training ke luar negeri, menembus level manager, dll). Situasi itu kadangkala membuat penebur mimpi karir merasa menembus tembok. Mutung. Akhirnya gagal.
Kegagalan yang beruntun, dari mimpi satu ke mimpi lain, dapat menurunkan mental. Saya termasuk yang pernah menjadi korbannya. Baru melangkah, mendapat pukulan telak: perusahaan bangkrut hanya dalam setahun. Untuk berani melangkah lagi sebagai wirausahawan butuh waktu tiga tahun. Bodoh sekali. Itu pun masih kena pukulan telak lagi. Di saat saya sudah berjaya, salah satu perusahaan yang saya bangun dan menjadi salah cash-cow karena mampu membagi deviden setiap dengan “sopan” meminta saya menjual seluruh saham saya. Belum cukup pukulan tadi, tonjokan lain datang: sebuah perusahaan lain yang saya dirikan sekarat. Itu masih ditambahi gigitan-gigitan keras lainnya: kalah tender miliaran rupiah hanya gara-gara salah membuat surat penawaran, kontrak bisnis yang nyaris batal karena masalah legalitas, tagihan macet, serta berbagai macam gigitan lain dalam mengelola usaha.
Atau dengarlah kata salah satu rekan yang mengirim email japri: .
Apa boleh buat, tidak ada rumus mudah melawan pembunuh mimpi ini kecuali kemampuan bangkit dari kegagalan. Orang sukses bukanlah mereka yang terus-menerus memetik sukses, tetapi mereka yang mampu bangkit dari kegagalan. Perbedaan mereka yang mampu mewujudkan mimpi dengan yang tidak bukan pada deretan prestasi yang diraih, tapi pada kemampuan membunuh rasa frustrasi menghadapi kegagalan dengan ganas dan cendekia.
Caranya? Kita bisa memotivasi diri sendiri. Tatkala sekali-sekali gagal, ajak diri sendiri berdiskusi dengan tema: Tidak ada jalan mulus menuju singgasana. Dalam bahasa halus Gede Prama: Banggalah dengan Kekalahan karena kekalahan akan mengantar ke kemenangan. Atau pakai bahasa lugas pakde Broro: Ikhlaskan saja kekalahan itu. Kekalahan membuat kita mengkritisi langkah yang pernah kita ambil dan membuka jalan lain untuk meraih mimpi.
Tapi tak mudah berdiskusi dengan diri sendiri dikala mental kita sedang runtuh. Hanya orang-orang istimewa yang masuk pada tahap itu. Karena saya belum masuk tahap canggih itu, saya motivasi diri sendiri dengan membaca kisah-kisah sukses orang lain, yang pernah kere tapi berhasil. Saya baca berulang-ulang tulisan-tulisan manajemen dan motivasi. Kalau masih kurang, saya diskusi dengan sesama wirausahawan. Berdiskusi dengan orang yang memiliki minat yang sama amat sangat membantu usaha bangkit. Tak jarang saya “ngadu” ke pebisnis yang lebih berhasil.
Trauma Kegagalan? Hajar bleh. Sikat abis. Ganyang. Gempur. Injak-injak. Bakar. Buang ke laut. Titik.
Tanya jawab :
—–Original Message—–
From:
Sent: Tuesday, March 02, 2004 8:32 PM
To: nukman
Subject: Mimpi Besar dan Mimpi Kecil
Impianku sekarang adalah bisa lepas jadi karyawan dan memiliki usaha sendiri yang bisa menghidupi keluarga dan sekitarnya. Aku coba mulai tahun kemarin. Uang tabunganku aku belikan 1 kijang dan 1 soluna, terus aku titip rental ke perusahaan rental mobil. Tapi ternyata perusahaan rental itu tidak bisa melakukan komitmen dengan disiplin. Gemes juga ngeliatnya. Pembayaran sering telat. Kalau saja aku yang punya perusahaan itu dan bisa mengontrol managementnya seperti yang aku inginkan ………
Ada pengalaman nggak buat referensiku mengembangkan bisnis ini ? Thanks !
NL : Kebetulan saya punya salah satu kenalan yang mengelola rental seperti ini. Saya akan cek dulu. Moga2 perusahaannya bisa menjadi alternatif menitipkan mobilmu. Sebenarnya, kalau punya link bisa saja langsung disewakan langsung ke kantor2 dengan kontrak bulanan atau tahunan. Ada perusahaan yang mau menyewa langsung dari perorangan tanpa badan hukum. Itu langkah jangka pendek jika hanya dengan dua mobil. Ada rekan2 yang bisa bantu menjawab ?
Mimpi (05) : Sang Penabur Benih Mimpi
Tak sebersitpun keraguan bahwa sang penabur benih mimpi adalah orang tua yang melahirkan kita. Saya sangat beruntung memiliki kedua orang tua yang begitu banyak dirundung masalah keluarga dan keuangan namun mampu lolos lubang jarum dan melahirkan sembilan anak yang sebagian besar diantaranya mampu menggapai mimpi-mimpi kecil.
Sebagian kecil lainnya sedang berusaha menuju ke sana – mereka masih punya mimpi.
Ayah yang tidak doyan korupsi memilih banting setir jadi wiraswasta ketika saya masih bocah imut lima tahun. Padahal, pegawai pemerintah jaman dulu kala itu bak pangeran. Namun tak kuat melihat praktik korupsi, menurut ayah, beliau lebih baik keluar dari lingkungan itu. Ayah sampai cerita korupsi yang mengerikan caranya, yang mirip-mirip cerita korupsi saat ini. Tapi ya berubah mental dari pegawai ke mandiri memang bukan langkah yang mudah. Ekonomi keluarga jadi morat-marit. Tapi entahlah, seperti ada keajaiban sehingga beberapa anak-anak ayah dan ibu bisa lulus sarjana, berkarir, bereluarga, dan membangun mimpi. Kadang ayah berguman: “Koncoku ora percoyo nek anakku podo dadi kabeh nek ndelok mbiyen koyo ngono,” Teman-teman ayah tidak yakin jika anaknya berhasil jika melihat masa lalu keluarga.
Tapi itulah berkah dari lintas profesi ayahku. Ketika membuka bisnis menjahit pakaian, anak-anak mendapat giliran membuka toko (jaman dulu masih pakai etalase kayu), membersihkan lantai, merapihkan sisa-sisa potongan kain, sebelum berangkat sekolah pagi. Anak-anak tidak pernah diberi uang saku. Kalau mau uang saku harus kerja. Maka belajarlah anak-anak memasang kancing baju menggunakan jarum dan tudung besi di jari untuk mendorong jarum agar ujung jari tidak luka. Dulu istilah jawanya: di-itiki. Tiap Jum’at dihitung, berapa baju yang sudah berhasil dikancingi. Kami dibayar seperti karyawan lainnya. Setelah bisa masang kancing, naik pangkat ke menyetrika baju dan celana. Lalu membuat lubang kancing. Naik lagi, boleh mengukur baju pelanggan. Dulu saya kayaaa gara-gara pekerjaan ini. Tiap akhir pekan bisa mengajak beberapa teman nonton film kungfu di bioskop yang kursinya makin ke belakang makin tinggi. Saya masih ingat, bintangnya antara lain David Chiang, Ti Lung, Wang Yu, Lo Lieh, Wang Tao, dan lain-lain. Kalau ada adegan mesra, mau mencium pipi, serentak semua penonton tepuk tangan dan menghentak-hentak kursi sehingga kursi bergoyang-goyang.
Rupanya saat itu orang tuaku menabur benih kewirausahaan tanpa sadar ke tulang sumsum anak-anaknya. Kami semua jadi belajar mengelola uang, mengelola produksi, mengelola pelanggan.
Yang lucu, ketika masih SMP, anak-anak yang sekolah diberi giliran belanja sayur dan kebutuhan sehari-hari. Yang sekolah pagi dapat jatah mencuci baju keluarga di sore hari. Yang kecil-kecil dapat kerjaan menyapu lantai atau mengelap meja dan jendela. Tanpa sadar, melalui belanja, saya belajar memilih barang yang baik. Saya masih ingat, begitu banyak penjual di pasar Mbasahan (yang selalu basah meski musim kering). Kalau mau dapat ikan yang segar dan murah harus tahu tempatnya. Begitu pula sayur dan daging tethelan.
Tanpa sadar, saya juga belajar cara negosiasi dan menawar sejak kecil. Tidak pernah saya beli tanpa nawar, sampai bakul ikannya hapal dan komentar. “Bagus-bagus kok ngenyangan tho le.” Saya belajar kalau menawar tidak harus lebih murah. Harganya sama tidak apa-apa, tapi minta tambah satu ikan gratis. Lucu memang: kecil-kecil belanja. Bahkan kalau uang sedikit tapi harus belanja ikan, saya belanja “iwak kucing” yakni ikan-ikan sisa yang memang dijatah untuk kucing. Cara jualan ikan jama dulu memang unik. Satu karung ikan langsung digelar di plastik. Ada bandeng, layur, teri, kuthuk, dan berbagai jenis jadi satu. Yang ikan kecil-kecil dan tidak laku, disisihkan dan disebut ikan kucing. Peduli amat, yang penting segar dan sehat.
Sungguh ayah ibuku luar biasa. Kere tapi mutu. Anaknya diwajibkan menjadi anggota perpustakaan. Saya saja waktu SMP sudah menjadi anggota 3 perpustakaan dan dalam seminggu bisa melahap minimal tiga buku. Ayahlah yang memilihkan buku-bukunya (semua harus lewat sortiran ayah). Itu sebabnya saya jadi pecandu Karl May yang mashur dengan tokoh Old Shutterhand dan Winnetou. Seri petualangan mereka di Amerika dan Balkan sudah saya lahap sejak SMP. Buku-buku petualangan jadi kegemaran saya waktu itu. Tapi saya juga baca novel serius seperti Sutan Takdir Alisyahbana, bahkan Ernest Hemigway yang ngetop dengan “The Old Man and The Sea”. Cerita detektif juga saya lahap termasuk karangan Agatha Crhistie. Novel romatis karangan Barbara Cartland dan Harold Robin juga sempat jadi idola. Hobi lain adalah membaca kisah-kisah ilmuwan dan penemu sukses seperti Marie Curie, Newton, Einstein dan lain-lain. Hm.. (jangan bilang-bilang ayah saya ya..) saya juga rajin membaca Nick Carter. Bahkan diam-diam saya baca stensilan Anny Arrow.
Semua buku yang saya baca membuka luas wanaca saya sejak kecil. Mimpi-mimpi berterbaran. Ingin jadi ilmuwan, pernah. Jadi detektif, juga pernah. Jadi pecinta hebat, hmm ..pernah juga. Pernah juga ingin menjadi sherif pembela Indian yang tersingkir. Indah. Mimpi bertebaran. Liar.
Terima kasih ayah. Terima kasih ibu. Kalian berdua memang hebat. I love you. Setiap habis sholat, saya selalu berdoa untukmu: “Ya Allah cintailah ayah ibuku sebagaimana mereka mencintaiku di waktu aku kecil. Robbich firli wa liwaa lidaiyya warchamhuma kamaa robbayaani soghiiro.”
Mimpi (06) : Membangun Mimpi Berkelanjutan
Saya sempat tertegun ketika membaca penggalan kalimat Michael Jordan dalam bukunya “In Pursuit of Excellence “, yang berbunyi seperti ini: “I have the desire to be the best person and player I can become, but I approach everything’s step by step. Its all mental for me. I know exactly where I want to go, and I focus on getting there. As I reach that level, I gain a little more confidences. Each success leads to the next one.
Ada dua hal yang menarik dalam kalimat ini. Pertama, “desire”. Kedua, “approach everything step by step”. Jordan sangat yakin dengan mimpinya, yang dikemas dalam bahasa membumi “desire”, atau yang terjemahan standarnya adalah hasrat atau keinginan kuat. Ia sangat ingin menjadi menjadi manusia dan pemain basket yang paling hebat. Hasrat atau keinginan yang amat kuat inilah yang menjadi daya dorong luar biasa bagi Jordan.
Jack M Zufelt yang menulis buku “The DNA of Success” mencoba mendalami soal “desire” ini. Ia mengungkapkan bahwa jika seseorang mampu menemukan “Core Desire” dalam hidupnya, maka orang tersebut akan melakukan usaha apapun untuk meraihnya. Jika seseorang terjebak di padang pasir tanpa air sama sekali, maka “core desire” nya adalah mendapatan air yang bisa diminum. Core desires (ingat, pakai s, jadi jamak) are those things you want so badly that you will do or become, whatever it takes to get them – no matter how hard it is or what the risk. These core desires are things that your heart is set on – things you want with all your heart. Atau bahasa jawa pinggirannya adalah “Diamput, mbuh piye carane pokoke kudu dadi.”
Semangat Core Desires adalah mimpi-mimpi yang harus diwujudkan dengan cara apapun. Mimpi yang tak berusaha sepenuh hati diwujudkan adalah bualan, omong kosong. Tiap orang sesungguhnya memiliki mimpi-mimpi – meski ada yang merasa tidak punya. Tiap orang memiliki core desises. Mimpi harus dieksekusi langkah demi langkah. Inilah yang saya sebut sebagai Membangun Mimpi Berkelanjutan. Jordan yang memiliki banyak desire dengan mantap mengekekusinya satu persatu. Satu mimpi terwujud, ia memburu mimpi berikutnya. Ia sadar betul, core desires-nya untuk menjadi orang dan pemain terhebat tak akan tercapai tanpa melalui tahapan mewujdukan desires.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita memiliki mimpi-mimpi, desires, atau core desires. Hanya saja, banyak yang tidak menyadarinya atau belum menemukan. Memang tidak gampang menemukan mimpi yang sesungguhnya atau core desires dalam kondisi normal (bukan dihempas oleh situasi antara hidup dan mati seperti tersesat di padang pasir). Tetapi, tidak usah risau. Dulu pun saya tidak tahu ilmu ini, tapi bisa menerapkannya. Hanya dari membangun mimpi sederhana “Survive di Jakarta dan menyekolahkan adik2 dan membantu ekonomi orang tua”, saya dapat melanjutkan mimpi-mimpi lain termasuk “Memiliki sorga dunia berupa rumah mungil dengan halaman luas di Jabotebek di mana kita bisa berlabuh, menyalurkan hobi berkebun dan melihat binatang piara”, “Menghajikan Orang tua dan Mertua”.
Mimpi-mimpi kecil itu ternyata melahirkan mimpi-mimpi baru. Gara-gara saya mimpi punya rumah mungil di tanah yang lapang, saya bekerja di atas rata-rata untuk mewududkan mimpi itu. Luar biasa, mimpi-mimpi itu dalam perjalananya berhasil memicu munculnya mimpi-mimpi bisnis dan manajemen. Misalnya, saya bermimpi menjadi karyawan dengan gaji paling tinggi diantara mereka yang masuk dengan posisi dan tahun yang sama. Begitu terwujud, mimpi saya naikkan menjadi “Gaji harus lebih tinggi daripada yang lebih senior”. Ternyata saya mampu mewujudkannya. Setelah mentok – tidak mungkin gaji lebih tinggi dari Direktur Utama – saya banting setir jadi wiraswasta, yang orientasinya bukan pada gaji lagi (malah menggaji). Di depan mata sekarang sudah hadir mimpi lain yang saya belum berani ungkap karena sedang berjuang keras mewujudkan sebuah mimpi yang nyaris gagal saya raih.
Inilah yang saya sebut sebagai mimpi berkelanjutan. Tahap sebelumnya selalu menjadi pijakan tahap berikutnya yang lebih tinggi. Tidak ada langkah yang sia-sia.
Apa kunci utama bisa membangun mimpi berkelanjutan? Kenali Mimpi-mimpi kita. Gali betul apa yang sesungguhnya kita inginkan. Pahami betul apa Core Desires kita sendiri. Caranya?
Mimpi (07) : Mengenali Mimpi
Seorang teman mengeluh, sudah bertahun-tahun menggeluti bisnisnya tetapi tidak maju-maju. Padahal ia sudah merasa bekerja super keras.

Seorang ekonom pernah menulis kolom betapa menyedihkannya nasib petani kita: mereka bekerja keras tetapi tetap miskin dan malah makin miskin. Tukang becak yang dari pagi sampai malam mengayuh becak nasibnya tak berubah.
Seorang karyawan merasa karirnya mentok, gajinya hanya naik setinggi inflasi tiap tahunnya – bahkan kadang tak naik, pekerjaannya itu-itu saja.
Situasi seperti itu sering kita hadapi pada masa tertentu. Tak ada yang kebal dari serangan penyakit ini. Rudyard Kipling mengatakan, jika kita tak mampu meraih apa yang kita inginkan, itu artinya memang kita sesungguhnya tidak menginginkan. “If you do not get what you want, it is a sure sign that you did not seriously want it.
Yang membedakan mimpi dengan bualan adalah mimpi selalu menuntut aksi yang memberikan nilai tambah, sementara bualan tak menuntut apa-apa.
Mimpi untuk “Bebas Finansial” tanpa diiringi langkah-langkah konkrit menuju ke sana, adalah bunga tidur. Oleh karena itu, langkah pertama menggali mimpi yang sesungguhnya adalah pertanyaan pada diri kita sendiri: “Mampukan mimpi itu menggerakkan diri kita untuk berbuat sesuatu menjadi lebih baik?” Kalau ya, itulah mimpi atau “desire” menurut Micahel Jordan. Kalau tidak, buang saja ke laut.
Seorang teman yang bermimpi menjadi pengusaha memberanikan diri untuk pindah kuadran, dari karyawan menjadi membangun usaha sendiri. Sebuah langkah yang hebat. Namun, ketika mengelola perusahaannya, ia masih bersikap seperti seperti karyawan: bekerja sejelek apapun pasti mendapat gaji. Ia masih saja meremehkan klien dengan terlambat datang ke meeting. Ia lupa, jika ia meremehkan pelanggan, sang pelanggan akan lari dan lenyaplah satu sumber pendapatan perusahaan. Jika itu menimpa pelanggan lain, satu per satu pelanggannya akan hilang. Ia lupa bahwa yang menggaji karyawannya dan bakal membuat dia kaya suatu saat sesungguhnya adalah pelanggannya. Oleh karena itu, orang yang terjebak pada situasi ini perlu bertanya pada diri sendiri: benarkah ini mimpiku?
“If you want to make small, incremental imrpovements, works on your behavior. If you want to make quatum leaps in improvement, work on your paradigm” – kata Stephen R. Covey yang mashur dengan serial SevenHabits-nya. Kalau hanya sekadar mau maju, bekerjalah dengan kebiasaan kita. Tapi kalau mau maju pesat, gunakanlah paradigma kita.
Mimpi, seharusnya mampu mendorong kita menuju perbaikan yang di atas rata-rata – quantum leap improvement. Mimpi mestinya mampu mendorong kita untuk menggunakan paradigma baru yang lebih benar dan meninggalkan paradigma lama yang menjerumuskan kita pada gegagalan.
Memang, kadar mimpi sangat bervariasi. Yang pantas dianggap mimpi, MINIMAL adalah mampu mendorong kita untuk “HARUS” mewujudkan mimpi tersebut apapun tantangan yang harus dihadapi. Dulu ketika mahasiswa, saya dilarang ikut pertandingan karate karena baru sabuk hijau dan baru sebulan ikut latihan. Saat itu juga saya bangun mimpi harus juara
karate meski hanya sabuk hijau. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya berhasil mengalahkan mereka yang sabuk hitam dan berhasil jadi juara. Hadiahnya? Tangan kiri langganan bengkak karena menangkis tendangan. Pipi selalu pecah dalam pertandingan. Bahkan pernah KO, karena dagu saya kena pukulan telak dan masuk rumah sakit dua hari dengan tiga jahitan. Biarin aja, yang penting mimpi terwujud.
Mimpi yang paling top adalah yang mampu mendorong kita untuk “MEWUJUDKAN MIMPI DENGAN PENUH CINTA. Inilah yang oleh Jack M Zufelt disebut Core Desires. “Core Desires are things that your heart is set on – things you want with your heart – things you love to do or to be”. Sesuatu yang ‘harus” kita lakukan berubah menjadi “ingin” kita lakukan pada tahapan ini. Mimpi yang jenis inilah yang paling perkasa membantu kita untuk meraih lompatan quantum dalam banyak hal: bukan hanya karir, tetapi juga kehidupan sosial dan keluarga. Tidak usah panjang lebar, apapun yang kita lakukan, jika dasarnya cinta, hasilnya akan luar biasa.
Mimpi yang tak memenuhi kedua syarat tadi, buang saja ke laut
Mimipi (08) : Apa Core Desire Kita ?
Sahabat saya, Kiki, mengomentari tulisan “Mengenali Mimpi” seperti ini :
“Tahun 1992 sewaktu saya masih di Jogya, ada seorang rekan kantor mengeluh pada saya sbb: Pak, saya pekerja keras, merokok tidak, minum minuman keras tidak, ngelakoni ya, semua yang dipersyaratkan untuk sukses telah saya lakukan (misalnya puasa, dll), tapi kok tidak ada perubahan ya.
Ini adalah pertanyaan yang sulit. Saya berpikir cukup lama untuk menjawabnya. Akhirnya saya bertanya: dengan kondisi seperti ini bapak merasa enak tidur, enak makan, dapat menikmati hidup ? Jawabnya ya. Itulah jawabannya. Setiap orang ingin sukses, ingin berhasil agar dapat enak tidur, enak makan dan dapat menikmati hidup; sedangkan bapak sudah mencapai pada taraf itu, jadi bapak sudah jauh di depan orang-orang masih mencari untuk dapat seperti Bapak. Jawabannya ini juga membuat saya berpikir mengenai tujuan hidup; Apakah yang dicari di dunia ini ? Ternyata hal yang paling hakiki adalah existensinya orang itu sendiri.”
Ada banyak hal yang terkandung dalam kalimat sahabat saya di atas. Satu, jika seseorang sudah mengeluhkan kondisinya (dalam hal ini rekan sahabat saya tadi), artinya ia menyadari bahwa apa yang dia inginkan belum juga diraih meski sudah berupaya maksimal. Ini sangat terkait dengan manajemen hidup dia yang perlu dikritisi. Saya tidak akan bahas dulu.
Yang menarik adalah yang kedua: mencoba melontarkan pertanyaan yang jawabannya berujung pada pencapain taraf menikmati hidup. Meski tidak ada perubahan finansial yang mencolok, rekan sahabat saya itu bisa merasa enak makan, enak tidur dan dapat menikmati hidup. Sebuah kemewahan yang luar biasa.
Jack M Zufelt memberi resep untuk mengenali Core Desires kita masing-masing dengan Question Game.
Pertama, ajukan pertanyaan jenis ini: “Apa yang INGIN saya MILIKI, yang sekarang BELUM saya MILIKI?
Pertanyaan utama ini bisa dipecah-pecah menjadi:
- Apa yang ingin saya lakukan jika saya punya banyak waktu dan tak punya kewajiban apapun?
- Apa yang membuat saya gembira dan tertawa?
- Apa watak yang ingin saya miliki atau diperkuat?
- Apa yang saya harapkan dari anak dan istri/suami?
- Jika uang saya cukup, apa yang harus saya lakukan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan menggairahkan kita. Namun, tak semuanya bisa disebut Core Desires. Pertanyaan harus dipersempit untuk menuju ke sana. Maka, ajukan pertanyaan kedua sebagai lanjutan masing-masing pertanyaan di atas:
“Jika saya BERHASIL memiliki apa yang ingin saya miliki, apa yang bakal saya RASAKAN, pengalaman emosional apa yang bakal saya dapat?
Cukupkah pencarian kita? Belum. Core Desires harus diukur seperti mengukur kekuatan gempa memakai skala Richter 0-10. Ingat, meski urutannya 0-10, skala Richter ini luar biasa karena beda kekuatan antara angka sangat signifikan. Gempa pada skala Richter 5 membuat tanah beguncang. Tapi pada skala 7 — Cuma beda dua angka – kerusakannya luar biasa. Ini karena tiap angka dalam skala Richter mewakili gempa yang kekuatannya 10 kali lipat satu skala di bawahnya.
Di bawah ini intensitas Core Desires ala Zufelt (dengan memakai angka 1-100):
1-20: whims, passing fanceis, whises, gratifications, momentary pleasure, and dislike
20-40: should, oughts, duties, obligations, assignments and extrinsic motivation
40-60: moderate-internsity desires, wants, interests, and needs
60-80: recurring desires; growing intensity, strong mind-set and a sense of duty
80-99: Steady deseire; relevant, important initiatives; strong interests and motivations
100: high intensity, relevancy, immediacy, heartfelt, passionate and deadearnest.
Skala 100 inilah yang disebut Zufelt sebagai core desires.
Sesuatu yang begitu amat sangat kita miliki, yang sampai mengalir dalam darah kita, masuk ke dalam sel-sel tubuh kita, yang mengusik adrenalin kita berproduksi maksimal, yang menggetarkan hati kita, yang membuat kita berujar “Duh Gusti, saya bener-bener ingin ..”
Core Desires bisa diterapkan dalam berbagai area, mulai dari finansial, kehidupan sosial, kepercayaan diri dan image pribadi, hingga kehidupan keluarga.
Berikut ini simulasi penerapan core desires untuk wilayah finansial.
Pertanyaan: di bidang finansial, apa yang ingin saya miliki yang saat ini belum kita miliki?
Jika jawabannya adalah Kebebasan Finansial, maka skalanya baru 80. Kejar lagi dengan Questions Game berupa pertanyaan: “Jika sudah bebas finansial, apa yang saya dapatkan yang selama ini belum kita miliki?”
Mungkin kita akan menjawab: “Kebebasan finasial akan memberi saya kebebasan untuk melakukan apapun yang kita sukai.”
Kejar lagi dengan pertanyaan berikut: “Jika saya bebas melakukan apapun yang saya suka, kebebasan seperti apa yang saya miliki? Apakah itu akan memberikan apa yang saya belum punya selama ini?” Nah, biasanya pada tahap ini kebanyakan orang akan mandeg, seperti menemui jalan buntu.
Jika sudah mentok, naikkan kualitas pertanyaan yang melibatkan perasaan.
“Jika saya sudah bebas finansial, apakah keinginan non finansial saya bisa terpenuhi? Hal emosional apa yang bakal yang dapat?” Para ekskutif yang super sibuk mengejar uang dan lupa keluarga akan menjawab spontan dengan mata berbinar seperti ini: “Aha, saya bisa bermain sepuas hati dengan keluarga”. Atau mereka yang sudah jenuh bekerja akan menjawab :
“Wah, saya bisa berhenti bekerja yang teratur dan membosankan. Saya bisa menikmati hidup.” Pada tahap ini skalanya sudah 100. Inilah Core Desires.
Jangan salah, Core Desires tiap orang berbeda. Akan ada orang yang mentertawakan kita dengan mengatakan: Kalau mau cukup bermain dengan keluarga kan tidak perlu bebas finansial. Kalau ingin menikmati hidup, tidak perlu kaya dan berprestasi tinggi, seperti yang disampaikan rekan sahabat saya di atas.
Setiap pertanyaan (bahkan yang sama) akan menghasilkan jawaban yang berbeda untuk masing-masing pribadi. Tidak ada salahnya mencoba trik Zufelt untuk menggali mimpi-mimpi kita karena seperti yang sudah saya sampaikan dalam serial sebelumnya, mimpi-mimpi akan memberi kita kekuatan luar biasa untuk bertindak dan membuat kita melakukan lompatan kuantum dalam berbagai area hidup kita.
Mimpi (09) : Pembunuh Mimpi Kaum Hawa
“. bagi perempuan lebih banyak lagi yang bisa menjadi pembunuh mimpi. Harus menjadi ibu yang selalu mendampingi anak2, harus selalu berada disamping suami, tidak boleh terlalu ” jauh” levelnya dengan sang belahan jiwa dsb..dsb.
Mungkin ada yang bilang, buatlah mimpi yang bisa direalisasi tanpa harus banyak keluar rumah, yang bisa tetap selalu ada disamping anak2 dan suami, yang tidak menentang kodrat dst..dst.. Tapi kan jadi harus membatasi mimpi. Ah.kadang dunia terasa kurang adil bagi kaum perempuan..”
Itulah email dari seorang wanita yang melayang ke laptop saya Jum’at lalu. Saya tercenung beberapa saat membaca email tersebut. Saya memahami email tersebut. Pada hari yang sama saya membaca email yang mengulas cerpen Maesa Ayu Djenar, wanita ayu yang kini menjadi ikon penulis (sastra?), dengan karya-karya cerpen luar biasanya seperti “Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu)”. Djenar menghebohkan dunia cerpen Indonesia ketika menulis cerpen “Menyusu Ayah” yang menceritakan gadis kecil yang tidak ingin menunjukkan kelemahannya dengan dinikmati laki-laki tapi ingin menikmati laki-laki dengan menyusu penis ayahnya.
Kaum Hawa, apa boleh buat, memang harus menghadapi fakta ini: Kehidupan yang didominasi oleh kaum Adam. Tak ada yang perlu dibantah soal fakta ini. Yang jelas, dampak dominasi ini adalah memasung mimpi banyak wanita. Wanita yang bekerja di dunia yang dianggap “keras dan hanya dunia laki-laki” (misalnya teknisi, ahli mekanik, dan lain-lain) sulit
mencapai posisi puncak. Dominasi laki-laki akan menghadang wanita yang bermimpi jadi teknisi andal -yang boleh belepotan oli-dan menggesernya ke posisi manajemen (yang barangkali tidak ia sukai). Suami yang “rendah diri” (termasuk saya) akan “secara tidak sadar” akan menghambat mimpi istri dengan alasan-alasan cengeng sehingga karir istri pas-pasan.
Namun, dalam dunia yang generalisasinya seperti itu, selalu ada pengecualian. Selalu saja ada wanita yang mampu menjadi hebat di karir dan bisnis namun harmonis dengan suami dan mewujudkan keluarga yang harmonis. Saya sempat mendapat rezeki dimentori langsung oleh dua srikandi bisnis dan manajemen Indonesia: Rini MS Suwandi dan Doris Herlambang sekitar enam bulan. Begitu mundur dari Direktur Utama dan Direktur Keuangan Astra Internasional pada tahun 2001, kapal pertama yang dimasuki Rini dan Doris adalah Agrakom – Detikcom, di mana saya sempat menjadi direktur. Rini menjadi Komisaris yang super aktif, masuk kantor tiga kali seminggu, melakukan diskusi dan memberi arah kepada direksi.
Bukan hanya ilmu dan pengalaman manajemen yang saya dapat. Lebih dari itu, saya melihat fakta wanita yang hebat di dua dunia yang dianggap bertentangan: bisnis dan keluarga. Doris adalah wanita yang benar-benar “ibu-ibu”. Penampilannya teramat sederhana, jauh dari kesan eksekutif puncak. Bahkan ketika saya melihatnya datang ke acara bisnis besar di hotel berbintang lima, sang pakar financial engineering ini nyaris tidak dianggap. Ia seperti manusia aneh di tengah mereka yang berdandan glamour. Setahu saya, mantan direktur keuangan Astra ini menjalani hidup wajar sebagai ibu dan istri. Karir dan pencapaian Doris melesat jauh di atas suaminnya, namun keluarganya harmonis. Rini, yang kini jadi Menperindag, yang menikah dengan teman kuliahnya, tampaknya akur-akur saja.
Sayang saya belum tahu ilmu lolos dari jebakan pembunuh mimpi kaum hawa ini. Persoalan utamanya, saya sendiri masih dihinggapi oleh penyakit dominasi laki-laki dan dalam proses meruntuhkan dominasi itu secara pribadi.
Atau ada yang bisa membantu?
Bagaimana para wanita?

Mimpi (10) : Mimpi Suami, Mimpi Istri, Mimpi Keluarga
Membangun mimpi individual, dari skala, relatif lebih mudah ketimbang membangun mimpi yang mau tak mau melibatkan orang ketiga (suami, istri, anak, mitra bisnis, investor, dll). Ketika sendiri, kita bisa menebar mimpi apa saja dan berusaha dengan segala daya mewujudkannya.
Namun, begitu berkeluaga, sepasang manusia dengan penuh cinta saling membagi mimpi dan berusaha mengkonstruksikan mimpi bersama, kemudian bersama-sama membangun.
Filosofinya, rumus matematika 1+1=2 tidak laku dalam pernikahan.
Pernikahan adalah sinergi dua manusia yang punya potensi untuk melancarkan energi positif yang sebelumnya tertutup pada masing-masing individu. Cinta yang ditumpahkan masing-masing akan membuat pasangan suami istri memiliki energi yang berlimpah untuk mewujudkan mimpi bersama. Saya sangat merasakan bedanya hidup sebelum dan setelah menikah. Tanpa istri yang mendampingi dengan penuh cinta, mustahil saya meraih semua ini.
Rumus menikah yang tepat adalah 1+1 >>> 2. Satu ditambah satu hasilnya jauuuuh di atas dua. Dulu di awal menikah, kami berdua mencari kontrakan yang murah meriah dengan jalan kaki ke mana-mana sambil ketawa-ketawa.
Akhirnya dapat kontrak rumah mungil di tengah kebun duku di kawasan Condet, dengan listrik hanya110 KWh. Hidup ada adanya, rumah tanpa dipan dan kasur, tanpa teve, bahkan jemuran baju pun tak punya. Buat kami, itu sudah mewah. Bisa kawin dengan lancar saja sudah seneng. Bahkan saat itu saya sering bercanda ke istri, “Kayaknya ayah cuma bisa beli mobil itu deh”, begitu melihat mobil Datsun tua dan keropos lewat. Namun lulusan cum laude Farmasi UGM yang mau dinikahi sarjana Teknik dengan IP 2,19 itu hanya tersenyum. Matanya yang bening seolah berkata: “Sudahlah, tidak usah risau dengan materi seperti itu”.
Mimpi istri sudah kelihatan sejak awal. Dia seorang yang sangat mencintai harmoni, kebersamaan, dan tidak mendewakan materi. Dia lebih senang menjadi dosen dan punya banyak waktu untuk bercengkerama dengan anak dan memberi dukungan ke suami. Ia tidak tertarik bekerja di perusahaan farmasi yang mau memberinya gaji dan fasilitas jauh lebih tinggi namun harus berangkat dari rumah jam 06.00 dan pulang ke rumah jam 19.00 ke atas. Mata teduhnya seolah mengatakan: saya hanya akan bekerja selama saya bisa terus menerus meniupkan nafas cinta ke anak dan suami.
Balutan cinta itulah yang menjaga suaminya untuk berkarir setinggi mungkin, bekerja sekeras mungkin, “berspekulasi seaman mungkin”, bermimpi setinggi mungkin, dengan tetap sadar terhadap mimpi istri, mimpi keluarga, bahkan mimpi anak. Mimpi istri akan keluarga sakinah mawaddah wa rochmah, mendorong suami untuk mencari rezeki yang halal.
Rezeki yang dialirkan ke rumah adalah hasil keringat sendiri, bukan hasil korupsi (termasuk korupsi waktu dan korupsi lain). Di saat lelah kerjaan kantor, kebanyakan rekan kerja ke café hingga petang, saya memilih pulang ke rumah kelonan dengan istri dan anak. Saya lebih suka menumpahkan kelelahan dalam pelukan hangat istri.
Namun, filosofi yang kelihatannya sederhana (1+1>>>2) itu tidak mudah dipraktekkan. Saya menemukan rekan kerja yang di ujung perceraian karena istrinya cemburu dengan suaminya yang sukses dan banyak dikelilingi wanita cantik. Saya juga melihat seorang wanita yang karirnya melejit ketika karir suaminya datar sehingga memicu rasa minder suami yang ujung-ujungnya mempertinggi percekcokan keluarga. Saya pun kadang diolok-olok sebagai suami takut istri, bahkan ditasbihkan sebagai ketua ISTI (ikatan suami takut istri), karena memilih pulang ketimbang nonkrong di café hingga petang.
Tiap keluarga pasti akan memiliki tantangan masing-masing. Berbagi mimpi sebagai individu, saling menghargai mimpi pasangan, menyepakati mimpi bersama, dan dengan penuh cinta membangun mimpi-mimpi tersebut memang bukan perkara mudah. Perlu banyak diskusi, wajib banyak latihan untuk memahami mimpi dan keterbatasan pasangan masing-masing. Itu akan bisa dilaksanakan jika pada saat-saat kritis, kita mengingat awal-awal perkawinan, saat di mana kita yakin, dialah orang terhebat yang bakal mendampingi hidup kita. Pasangan kita bukanlah penghambat mimpi atau bahkan pesaing mewujudkan mimpi. Pasangan hidup adalah jiwa tambahan yang membuat kita bisa terbang jauh lebih tinggi bersama-sama untuk menggapai mimpi bersama yang tak terbayangkan ketika masih sendiri

Mimpi (11) : Mimpi Wira Usaha

Pertaruhan paling berat adalah ketika saya memutuskan 100% menjadi pengusaha. Meski sudah bertahun-tahun latihan mengasah intrapreneuership ketika menjadi eksekutif profesional dengan mengembangkan unit-unit bisnis dan anak perusahaan, masih ada rasa gamang ketika harus mandiri 100% dan memulai lagi dari nol.
Banyak kasus menunjukkan: berhasil menjadi intrapreneur bukan jaminan sukses menjadi entepreneur. Judiono Tosin dan Johannes Kotjo yang perkasa sebagai ekekutif puncak Salim Group, begitu keluar dan membangun bisnis sendiri, nama dan bisnisnya tenggelam. Ketika kredit bank murah meriah dan gampang didapat pada tahun 1995-an, banyak top eksekutif konglomerat, termasuk di Astra Group, keluar dan berbisnis sendiri. Namun dalam perjalanannya, banyak yang nasibnya lebih buruk ketimbang sebagai eksekutif.
Kalau mereka yang jauh lebih hebat saja bisa gagal, maka saya pun amat sangat menyadari kemungkinan buruk itu. Apalagi dunia bisnis sekarang sudah jauh berubah. Kredit bank semakin sulit didapat. Pada awal tahun 1990-an, pengusaha bisa meraih pinjmanan 3x aset yang dimiliki.
Sekarang, rata-rata hanya 80% aset. Analisa kredit bank pun makin rumit dan hati-hati. Bisa saja nyogok. Kalau pun dapat, harus memiliki agunan tetap 100% gara-gara bank trauma dengan kegagalan masa lalu. Hal ini menyulitkan pengusaha kecil menengah yang modalnya pas-pasan untuk berkembang pesat. Jika di masa lalu perkembangan pesat perusahaan dapat didongkak dengan kredit bank, kini hampir sepenuhnya mengandalkan modal sendiri dan kemampuan memupuk laba. Setelah sukses dalam tiga tahun, baru bank mau melirik. Bank saat ini memang bukan mesin pertumbuhan ekonomi dan dunia usaha. Uang nasabah lebih banyak disimpan di Bank Indonesia dalam bentuk SBI. Padahal selain perbankan, masih banyak hal lain yang bisa mengerdilkan dunia usaha, termasuk perizinan dan pajak.
Tapi ya sudahlah. Itulah tantangannya. Sambil bismillah, pada momen yang tepat, saya ayunkan langkah dengan penuh perhitungan. Keluarga, misalnya, sudah saya siapkan tabungan untuk setahun penuh dengan asumsi saya tidak gajian setahun. Sambil mengurusi legalitas perusahaan dan mencari kantor yang tepat pun saya sudah mulai melakukan kontak bisnis ke sana ke mari. Selama belum ada kantor resmi, “kantor” pertama saya adalah Sturbucks di Citos dan Coffe Bean di Plasa Senayan. Tiap pagi saya minum kopi di sana sambil membuat rencana bisnis perusahaan, membuat proposal atau informal meeting dengan calon pelanggan. Itu sebabnya, sebelum kantor selesai dibangun saya sudah mendapat proyek pertama. Sementara itu risiko bisnis saya minimalkan dengan sejauh mungkin menekan biaya tanpa harus mengorbankan image perusahaan. Kebetulan ada teman punya sepetak ruang nganggur di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, yang langsung saja ditawarkan begitu tahu saya butuh kantor kecil.
Mimpi sebagai wirausaha telah ditancapkan. Langkah sudah diayun. Banyak hal dan tantangan baru dihadapi. Kepusingan menghadapi cash flow.
Jantung berdetak kencang ketika tagihan macet sementara gaji karyawan tidak boleh terlambat. Gatal-gatal kepala karena gagal tender. Itulah nikmatnya mimpi baru kali ini. Mimpi yang mempertaruhkan banyak hal:
harta, kredibilitas dan masa depan.
Tak terasa, Maret lalu tepat setahun saya menjadi wirausaha tulen. Rapor akhir Desember masih merah alias merugi secara akuntansi. Tapi itu wajar dan sudah masuk dalam perhitungan. Yang penting, tahun pertama sudah mampu membangun mesin pertumbuhan untuk tahun kedua. Portfolio usaha sudah lumayan. Jaringan bisnis makin bagus. Perusahaan yangs semula cuma saya sendiri, kini sudah memiliki 15 karyawan. Mimpi yang ini benar-benar menggairahkan dan penuh tantangan

Mimpi (12) : Berbagi Mimpi Wirausaha

Rupanya jemaah UGM-iyah banyak yang memiliki mimpi wirausaha. Sungguh di luar dugaan, respon email terhadap hal ini cukup banyak. Beberapa masih dalam tahap menyiapkan mimpi.

Beberapa sudah melangkah dan mengejar mimpi dengan hasil yang luar biasa. Kenyataan ini sedikit menghibur saya, yang sepekan lalu sempat disodori angka statistik tentang
kewirausahaan (entrepreneurship). Rekan saya yang membawahi bisnis VSAT untuk wilayah Asia Tenggara menyebutkan (angka tepatnya saya lupa), tapi kira-kira seperti ini: satu dari 8 (atau 80?) orang di Singapura adalah pengusaha. Sedangkan di Indonesia hanya lahir satu pengusaha diantara 20.000 orang. Jelas sebuah perbedaan yang amat nyata.
Berikut ini sebuah email yang membagi mimpi wirausaha. Saya kutip penuh. “Saya juga memiliki mimpi yang relatif sama dengan Mas Nukman…dan begitu juga dalam perjalanan yang saya lalui, pertaruhan besar adalah ketika saya memberanikan diri untuk memulai usaha sendiri. Banyak yang dipertaruhkan dan begitu banyak yang harus dipelajari walaupun juga kasusnya sama dengan yang Mas Nukman alami dimana juga sebelumnya saya pernah pegang PMA dan dididik dengan lumayan baik….tapi pengalaman menunjukkan masih banyak yang harus dipersiapkan dan dipelajari untuk menjadi Entepreneur (walupun masih kecil-kecilan).
Tapi yang jelas adalah tetap semangat dan semangat ketika mimpi-mimpi itu telah diformulasikan dalam langkah-langkah yang nyata dan pantang menyerah untuk surut ke belakang jika memang semua formula telah diterapkan. Belajar dan pengalaman dari orang-orang yang telah sukses saya pikir juga banyak membantu dalam menentukan langkah dan yang pasti adalah keinginan untuk selalu bertanya pada yang lebih tahu akan banyak memberikan masukan yang sangat berarti.
Setahun lebih dua bulan sudah saya memulai usaha ini dan Alhamdulillah banyak yang didapat (sekarang sudah ada 350 karyawan) dan juga memberikan banyak arti dan kepercayaan untuk melangkah ke mimpi selanjutnya.
Saya memulai dengan menyewa tempat untuk usaha dan kemungkinan tahun depan (Insya Allah kalau sesuai dengan rencana) sudah bisa menempati gedung sendiri seluas 5450m2 yang sekarang masih pada tahap pembangunan.
Mimpi-mimpi itu sekarang bagi saya sedang berjalan dan akan terus saya pupuk untuk tumbuh dengan mimpi-mipmi selanjutnya yang juga sudah ada.
Mohon jangan dianggap sombong atau umuk tapi hanya pengin memberikan sesuatu yang mungkin bisa menambah keyakinan dan wawasan rekan-rekan dalam perjalanan karier”
Salam, Arief SN / TN91 / 17052
Arief si rendah hati ini adalah sarjana Teknik Nuklir angkatan 1991 yang terbukti sebagai usahawan tangguh. Emailnya yang dia kirim setahun lalu masih saya simpan baik-baik saking senangnya saya terima email dia waktu itu. Ia pernah kerja di kerja di Philips BV terus ke PowerGen International terus ke Multay International Indonesia). Setelah itu ia mandiri, membuka bisnis furniture. Kalimatnya saya ingat waktu itu:
“Saya buka usaha dibidang furniture dan 100% export. Pasar utama yang saya tuju adalah USA, South America, Canada, Europe, Middle East, dan juga punya rencana untuk membidik Afrika”.
Mampu tumbuh di tengah kompetisi yang ketat (ingat, mebel Cina menggempur pasar lokal dan dunia saat ini, bahkan Cina kini menjadi eksportir furniture terbesar dunia, menggeser posisi Italia) sungguh luar biasa. Arief mampu meraih pencapaian besar — karyawan yang mencapai 350 orang dan bisa membangun gedung sendiri di atas tanah seluas 5450m2 – di saat dunia furniture Indonesia dilanda masalah.
Ada beberapa orang lagi yang berbagi mimpi wirausaha (ada yang via email japri, chatting, bahkan telpon). Mereka masing-masing memiliki kisah menariknya. Nanti akan saya posting satu-satu agar menjadi pupuk bagi semangat kita untuk mewujudkan mimpi.
Mimpi (13) : Mimpi Wirausaha Bermodal Cekak
Tiga tahun lalu web designer saya mengundurkan diri dan menyatakan ingin mandiri. Dua bulan kemudian dia datang lagi dengan proposal dan rencana bisnis. “Saya hanya punya dua server, tim yang bisa membuat ‘pabrik’ web, dan komitmen dari pelanggan di Belanda” katanya.
Bisa nggak saya dimodali untuk koneksi internet kecepatan tinggi, tambahan server dan sedikit kebutuhan lain?” Melihat rencana bisnisnya masuk akal dan kejujurannya selama ini, meski saya awalnya masih ragu dengan kemampuan manajerial dan kewirausahaanya, saya penuhi keinginannya dengan menyetor modal. Saya menjadi investor pasif. Kini usahanya lumayan berkembang dan bisa dilihat di www.thinknolimits.com
.
Modal adalah masalah klasik dalam dunia usaha. Dalam dunia kapitalis, modal akan mengalir ke tempat-tempat terpercaya dan memberi nilai balik tinggi. Yang dipercaya adalah mereka yang telah memiliki nama dan diakui, sehingga namanya saja bisa dijadikan garansi kredit, yang dikenal sebagai personal guarantee. Jadi kalau baru mulai mencicipi dunia usaha, jangan bermimpi untuk mudah mendapat modal.
Beruntunglah mereka yang memiliki orang tua dengan harta berlimpah dan semangat wirausaha yang tinggi. Orang tua tipe ini bagaimanapun juga merupakan lahan subur bagi pertumbuhan bibit wirausaha anak. Tidak usah terlalu heran jika melihat anak seorang usahawan sukses bisa memiliki begitu banyak perusahaan besar, mampu meraih gelar MBA bergengsi dari luar negeri, memimpin berbagai organisasi sosial dan hobi. Sudah sekolahnya pintar, hebat berorganisasi, anak orang kaya dan top lagi.
Lengkap. Bibit, bebet, bobotnya dapat nilai tinggi. Sukses bisnis seolah sudah dihamparkan di setiap langkahnya.
Sayang, faktanya sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki orang tua yang kurang mampu. Jangankan memberi modal finansial anaknya, untuk kehidupan sehari-hari saja kebanyakan masih kurang. Mampu meluluskan anakknya sampai sarjana saja sudah hebat. Namun bukan berarti mereka yang punya orang tua seperti ini tak beruntung. Kapan-kapan akan saya kisahkan bagaimana anak-anak jenis ini mendapat bekal ilmu ketangguhan dan kesabaran menghadapi masalah, kemiskian dan penderitaan di atas rata-rata yang bagus untuk dunia usaha.
Bagi seorang wirausahawan, modal bukan lagi penghalang, apapun latar belakangnya. Wirausahawan wajib memiliki kemampuang mengelola dan memberdayakan berbagai resource, termasuk modal. Jika membutuhkan modal, ia akan mencari berbagai jalan untuk mendapatkannya. Tidak ada istilah “kepentok modal” lagi bagi usahawan ulet. Yang dilakukan mantan web designer saya di atas adalah salah satu cerdik.
Saya punya rekan yang terjun ke dunia usaha dengan cara tradisional. Ia langsung saja bikin perusahaan sendiri meski modalnya hanya beberapa juta rupiah. Ia cari mitra yang punya komitmen memberikan proyek jangka panjang. Ia cari kantor yang murah meriah, menjaga biaya bulanan tidak lebih dari Rp 5 juta/bulan. Ia merangkap semua jabatan: karena di kantor ya hanya dia seorang. Begitu mendapat proyek, bukti kontraknya dipakai untuk mencari pinjaman jangka pendek dan ia kontak rekan-rekannya untuk menggarap bersama-sama.
Mau cara lain? Inilah yang dipakai oleh wirausahan licin: cari orang-orang yang kepepet butuh uang dengan menjual tanahnya, tekan harga semurah mungkin (misalnya X), kasih uang muka sekecil mungkin, minta sertifikatnya, lalu agunkan ke bank dengan nilai kredit yang jauh lebih besar dari harga beli (misalnya 3X). Begitu kredit turun, lunasi pembayaran jual beli tanahnya. Sang wirausahawan tiba-tiba punya uang tunai 2X untuk modal bisnisnya.
Masih banyak cara lain mengatasi keterbatasan modal. Masing-masing cara memiliki plus minusnya sendiri-sendiri. Saya lebih suka dengan cara yang aman. Jauh sebelum saya jadi wirausahawan, saya sudah membiasakan diri tidak menabung banyak di bank. Sebagian uang saya pertaruhkan sebagai setoran modal di beberapa perusahaan yang dikelola dan dibangun oleh orang-orang yang saya percaya. Dari hasil penjualan saham di salah satu perusahaan, saya bisa memodali perusahaan yang saya kelola sendiri sekarang ini. Kini saya berusaha memupuk modal dari kemampuan perusahaan meraih laba. Begitu seterusnya.
Tentu saja berbagai pola pendanaan akan terus perlu digali dan dikaji, termasuk bank, private placement, serta bagi hasil proyek untuk ekspansi usaha dan berbagi risiko bisnis.
Bersambung.
Note:
Semoga bisa menjawab pertanyaan ini:
—–Original Message—–
From: jauringkang tabah
Sent: Wednesday, March 31, 2004 6:13 PM
Subject: Re: [teknik-nuklir] Mimpi Wira Usaha
Mas, salam kenal…..
Saya punya banyak mimpi. Kira-kira gimana ya cara menjawab pernyataan “Terbentur modal uang/gak punya modal” ? Sedang saya ingin memiliki usaha tersebut 100%.
Makasih ya mas…
Nukman Luthfie

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.